Hama Walang Sangit dan Tikus Serang Padi Petani di Bebalang – Bali Express

I Nengah Mudara, salah seorang petani di Subak Aya Badung Rabu (17/1) kemarin mengungkapkan, serangan hama walang sangit mulai terjadi ketika puluhan are tanaman padi mulai berbuah. Kondisi ini jelas tidak baik bagi tanaman padi tersebut, lantaran hama walang sangit langsung memakan bulir padi yang mulai tumbuh.
Kondisi inilah yang membuat Mudara dan petani lainnya kalang kabut. “Kondisinya sekarang sangat susah. Karena walang sangit yang sudah menyerang sejak 20 hari lalu, tepat saat padi baru berumur 70 hari, dan saat padi mau tumbuh bulir,” ucapnya.

Tidak disemprot ? Mudara mengatakan, upaya sudah langsung dilakukan para petani dengan cara penyemprotan secara rutin. Tapi langkah itu tidak maksimal membantu, lantaran penyemprotan tidak bisa dilakukan secara massal pada semua areal persawahan padi di subak tersebut.
“Semprot sudah berkali-kali. Tapi masalahnya, saat disemprtot walang sangit ini akan pindah ke padi petani lain yang kebetulan tidak melakukan penyemprotan. Begitu juga sebaliknya,” terangnya.

Makanya dia dan petani lainnya berharap supaya dinas terkait bisa turut membantu. Caranya dengan melakukan penyemprotan hama walang sangit secara massal, sehingga hama-hama tersebut tidak bisa berpindah-pindah dari areal padi petani satu ke petani lainnya.

Tak hanya pusing mengurus hama walang sangit, petani padi di kawasan tersebut juga direpotkan serangan hama tikus dan tungro. Serangan hama ini membuat padi tidak bisa tumbuh sempurna karena daun padi seketika berubah kuning, sebelum menghasilkan bulir buah.

“Untuk mengatasi tikus-tikus ini sebenarnya kami sudah lakukan upaya dengan memasang racun tikus. Tapi ternyata tidak mempan. Karena tikus tidak mau memakan racun tersebut. Malah sekarang tikus-tikusnya semakin banyak,” bebernya.

Dengan keadaan itu, Mudara dan petani lainnya mengaku sudah bersiap memperoleh panen yang jauh berkurang dari biasanya. Karena jika padi tumbuh normal tanpa serangan hama yang parah, padi dengan luas 25 are mampu menghasilkan sekitar 30 kampil gabah. Sekarang dengan kondisi serbuan hama dan tikus, diyakini hasil panen tak lebih dari 10 sampai 15 kampil gabah.

“Kalau hama wereng sudah menyerang, bulir padi pasti akan kosong,” keluhnya. 

(bx/wid/ima/yes/JPR)

Source link