Harga beras di atas harga eceran tertinggi – Radar Kudus

Menanggapi hal tersebut, Dinas Perdagangan Kudus berencana menggelar operasi pasar (OP). Namun, untuk kepastiannya masih menunggu koordinasi dengan Bulog. Kepala Dinas Pasar Sudiharti melalui Kabid Fasilitasi Perdagangan Promosi dan Perlindungan Konsumen Imam Prayetno mengatakan, ketersediaan beras yang ada di Bulog belum tercukupi.

”Kami juga baru mencari-cari beras yang layak untuk OP. Kenaikan harga tetap kami pantau, sekaligus pasokan yang ada di pasar tradisional. Siklus beras naik menjelang akhir tahun, seperti tahun sebelumnya. Tapi sekarang sudah ditetap HET jadi pengendalian harga betul-betul diperhatikan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, di tingkat konsumen harga beras medium mencapai Rp 10.500 per kilogram. Sedangkan, HET beras medium hanya Rp 9.450 per kilogram. Kenaikan dari HET sudah mencapai lebih dari 10 persen, untuk itu disiapkan OP.

Menurutnya, sudah dilakukan survei beberapa pasar tradisional, beras kualitas rendah tidak diminati konsumen. Hanya, digunakan untuk kebutuhan tertentu, seperti diolah menjadi tepung atau sumbangan orang punya gawe.

”Makanya, kami kalau mau OP memastikan lebih dulu beras kualitas bagus. Tujuan operas pasar adalah untuk menekan harga di pasaran. Percuma kalau jual murah tetapi kualitasnya di bawah standar kualitas yang ada di pasar, bisa tidak laku,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus menyampaikan, indeks harga konsumen November mengalami inflasi 0,35 persen. Kepala BPS Kudus Sapto Harjuli Wahyu mengatakan, sumbangan terbesar dipengaruhi kelompok bahan makanan yakni beras dan bawang merah.

”Kenaikan harga beras sudah mulai terasa bulan lalu, sehingga pengaruh terjadinya inflasi cukup besar. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada telur dan daging ayam ras. Kami belum bisa memperkirakan inflasi sampai akhir tahun. Kalau harga pokok terus naik bisa jadi Desember inflasi,” ungkapnya. 

(ks/san/lin/top/JPR)