Ibu-Ibu Juga Semangat UNBK – Radar Jember

Kasiyati kemarin memang harus segera pulang lebih awal dari 20 peserta UNBK Paket B lainnya. Sebelum peserta ujian lainnya selesai, dirinya sudah keluar lebih dulu. “Saya tidak bisa konsentrasi,” ujarnya, kemarin. 

Dia memang tidak bisa berlama-lama di lokasi ujian, karena di rumahnya, Kasiyati sedang mempunyai hajat mengawinkan anaknya. 

Kasiyati pun berusaha untuk melaksanakan ujian dengan cepat, namun tetap dengan semangat untuk bisa lulus. Meski, Kasiyati tidak bisa mengoperasikan komputer. “Dia kami bantu buka komputer. Saat pertama kali datang dan masuk ruangan, terlihat sudah seperti orang tidak konsentrasi,” ujar Sirat Adi Purnomo, Ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Kartini, Tempurejo, yang menyelenggarakan ujian ini. 

Sebelum ikut UNBK Paket B tersebut, Kasiyati sama sekali belum pernah kenal yang namanya komputer. Karena bingung, berkali-kali dia memanggil petugas jaga. “Mas, iki piye, tulisane sing wis mari tak ketik kok ilang kabeh? (Mas, ini bagaimana, tulisan yang sudah saya ketik kok hilang semua, Red),” ujarnya. 

Selain itu, untuk membesarkan huruf saja, dia sama sekali tidak tahu caranya, harus memencet apa. “Bahkan, ketika menulis nama dan nomor saja hilang, karena kena delete,” ujar Sirat. Sehingga, petugas harus memandu sebelum mengerjakan soal-soal. 

Selain Kasiyati, juga ada peserta lanjut usia lainnya, yakni Edy Sunyoto, 52, yang juga warga Dusun Krataon, Desa Wonoasri, Tempurejo. Dua peserta yang umurnya paling tua ini harus ditunggui dua petugas. Sebab, keduanya memang belum terbiasa menggunakan komputer. “Untuk mengisi namanya saja harus dibantu petugas,” ujarnya.

Sirat menambahkan, meskipun banyak kendala, namun semua peserta kemarin hadir. “Alhamdulillah dari 21 peserta UNBK dari PKBM Kartini bisa hadir semua,” jelasnya. Meskipun untuk menghadirkan mereka bukan perjuangan yang mudah, karena beberapa peserta ini harus dijemput ke rumahnya.

“Juga ada peserta yang harus mengikuti UNBK setelah bekerja sebagai tukang sadap karet di Perkebunan Blater, Tempurejo,” terangnya. 

Karena ada beberapa peserta yang tidak terbiasa bangun pagi, sehingga harus dijemput ke rumahnya. Untuk ke tempat ujian ini saja harus dikawal, mulai berangkat dari rumahnya hingga ke tempat UNBK, di SMPN 1 Jenggawah. 

“Kalau misalnya berangkat sendiri, mereka memilih tidak datang,” jelasnya. 

Dalam persiapan kegiatan UNBK ini, pihaknya beberapa hari sebelumnya sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah yakni SMPN 1 Jenggawah. 

(jr/jum/hdi/das/JPR)

Source link