Inflasi Jatim Lebih Tinggi dari Nasional – Radar Surabaya

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono menjelaskan, hasil pemantauan perubahan harga selama bulan November 2017 di delapan kota Indek Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau.

“Komoditas utama yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di Jawa Timur bulan November 2017 ialah naiknya harga  beras, bawang merah, dan telur ayam ras,” kata Teguh saat jumpa pers IHK di kantornya, Senin (4/12). 

Menurut dia, komoditas yang memberikan andil terbesar penghambat inflasi ialah turunnya harga buah jeruk, daging ayam ras, dan anggur. Sedangkan, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi, ialah kelompok bahan makanan yang mencapai 0,63 persen. Sementara, kelompok terendah ialah pendidikan, rekreasi, dan olah raga yang mengalami inflasi sebesar 0,04 persen. 

Teguh mengatakan, terjadinya peningkatan IHK yaitu dari 128,88 pada Oktober 2017 kemudian naik menjadi 129,18 pada November 2017. Sepanjang tahun 2008 sampai dengan 2017 selalu terjadi inflasi di November, kecuali di tahun 2008 yang mengalami deflasi. “November 2014 merupakan inflasi tertinggi, yaitu sebesar 1,38 persen sedangkan inflasi terendah terjadi pada November 2009 sebesar 0,04 persen,” kata dia.  

Dari 8 kota yang menghitung Inflasi, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yaitu mencapai 0,57 persen, diikuti Jember 0,34 persen, Banyuwangi 0,33 persen, Probolinggo dan Malang 0,27 persen, Kediri 0,23 persen, Surabaya 0,18 persen, dan Madiun 0,10 persen. (han/hen) 

(sb/han/jek/JPR)