Ini Dia Cara Penggunaan dan Formulasi Gaib Aksara yang Menyembuhkan – Bali Express

Penulis buku Hindu, I Ketut Sandika, S.Pd.,M.Pd. menjelaskan bahwa Aksara  adalah obat, memberikan imunitas bagi jiwa dan raga sarira. “Jadi, Aksara bukanlah sekadar tulisan dan gambar, tetapi formulasi gaib yang sangat bermanfaat bagi diri. Manfaatnya akan dirasa jika dijadikan seni laku kehidupan dalam pendisiplinan diri,” beber pria asal Klungkung yang juga  peneliti budaya ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (29/1) di Denpasar.

Dikatakan I Ketut Sandika, tubuh sebagi selubung jiwa, terbagi menjadi dua, yakni tubuh psikis dan fisik.  Dalam tubuh psikis, telah menempel timbunan karma, noda, papa, dan klesa. Sehingga yang sejati tidak nampak. Ibarat cermin yang ditutupi debu, jabang bayi yang diselimuti janin.

“Demikianlah sang diri sejati terhalangi oleh segala noda. Kondisi yang demikian, tidak berbeda dengan sakit. Sebab, menderitalah diri oleh segala noda itu,” terang pria Pengajar  Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar dan IKIP PGRI Bali ini.

Dalam tubuh fisik, lanjutnya, di dalamnya ada racun akibat makanan dan energi negatif yang datang dari orang maupun alam, sehingga diri sakit  oleh segala penyakit itu. Tetapi, Aksara bertutur bahwa segala noda, papa, klesa, dan racun dapat dibakar. Pun demikian energi negatif dapat internalisasi.

“Jika kita mampu menyalakan api dalam diri. Sebab, segala kekotoran itu tidak ubahnya seperti kayu bakar. Maka, bakarlah pada api yang menyala hebat hingga menjadi abu,” sarannya.

Bagaimana cara menyalakan api? Dikatakan Sandika, Aksara kembali bertutur, ucapkan Ang-Ah dalam batin sembari merasakan keluar masuknya napas. Setelah dirasa sensasi panas, maka satukan dwiaksara itu pada Aksara Ong menjadi Ongkara Ngadeg (Ong berdiri tegak). Setelah panas membakar semua kekotoran itu, lanjutnya, jangan lupa menuangkan air amerta itu. Ucapkan terbalik Ah-Ang dan satukan menjadi Ong. Letakanlah terbalik (sumusang) pada tulang tengkorak bagian atas. Ardhacandra pada kedua alis, windhu pada ujung hidung dan nadha pada Windhu Rahasya Muka yang letaknya di cekung pangkal leher.

“Aksara berkata, itulah disebut Cecupu Mas,” beber Sandika.

Kemudian, niatkan tirta amerta mengalir dari otak memenuhi cupu mas. Dan, akhirnya pecah. Maka mengalirlah amerta itu, seperti air bah yang menghanyutkan segala abu kekotoran itu. Bawa ke tukad atau Sungai Saraswati, yakni pada lidah mengalir ke rongga leher (kerongkongan). Terus alirkan ke Sungai Gangga di rongga dada, terus mengalir ke Sungai Yamuna di rongga perut. Akhirnya bermuara di Sungai Serayu.

Dimanakah Sungai Serayu?

Sungai itu mengalir mulai dari pusar. Terus keluar dari kemaluan dan anus. Sebagian keluar pada bulu kaki, hingga abu kekotoran itu keluar dari telapak kaki. Kotoran itu terlepas kembali ke Bhuwana Agung. Dikatakannya, Aksara bertutur cara ini tidaklah sulit. Bisa dilakukan kapanpun dan dalam kondisi apapun.  Jika tidak dilakukan, lanjutnya, organ dalam badan sarira akan bekerja dengan sendirinya. Segala kekotoran akan keluar melalui Sungai Serayu.

“Demikianlah Aksara bertutur kesejatian diri. Tentang diri dan segalanya yang ada di dalam diri maupun di luar diri,” urainya.

Maka, sebaiknya kini, lanjutnya, duduklah sebentar atau pejamkan mata sesaat. “Rasakan keluar masuknya napas, izinkan api pembakaran itu bekerja sehingga segala bentuk kekotoran niskala dan sekala terhanyutkan,” pungkasnya. 

(bx/rin/ima/yes/JPR)

Source link