Ini Duka Keluarga Friska, Balita yang Tercebur di Sungai Kolursari – Radar Bromo

BERDUKA:
(Nanik (kiri) menerima pentakziah. Saat berkunjung di rumah Nanik itulah Friska tenggelam di keramba yang ada di sungai Kolursari)

Meninggalnya Friska, gara-gara tercebur ke kerambah ikan di sungai Kolursari, Kecamatan Bangil, menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Keluarga Ayu Wartini, orang tua korban, benar-benar tak menyangka momen kunjungan ke rumah kerabat itu berakhir tragis. 

SEPASANG mata Ayu Wartini tampak sembab. Kedua kantung matanya membengkak. Sesekali,  ia menyeka air matanya yang tak bisa ditahannya. Tak banyak kata yang diucapkan perempuan berjilbab itu. Ia lebih banyak diam, saat tamu silih berganti menyampaikan rasa belasungkawa. Begitu pula suaminya, M. Udik.

Kehilangan anak semata wayangnya, Friska, menjadi cobaan paling berat yang dirasakan Ayu dan M. Udik. “Sudah tidak ada apa-apa, Mas. Kami semua sudah ikhlas. Ini cobaan dari Yang Maha Kuasa,” ungkap Nanik Suhartini, kerabat korban saat ditemui koran ini di rumah duka, kemarin (14/12).

Rumah duka itu, merupakan tempat tinggal Nanik Suhartini. Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung Kamis (14/12), rumah itu banyak dikunjungi tetangga. Mereka bertakziah. Satu rombongan pergi, digantikan dengan rombongan lainnya. Seolah-olah, rumah itu tak sepi dari tamu yang bertakziah.

Menurut Nanik, Friska merupakan keponakannya. Balita 1,8 tahun itu, datang ke Bangil untuk sambang. Sudah beberapa bulan terakhir, Friska baru kembali bertandang ke rumahnya. “Saya bude-nya Mas. Friska datang ke sini, niatnya untuk sambang. Kangen,” kataNanik.

Dikatakan Nanik, Friska dan orang tuanya, sebenarnya tinggal di Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Friska dan sang ibu, berkunjung ke rumahnya, sejak Minggu siang (10/12). Sementara, ayah Friska, M. Udik bekerja sebagai pegawai katering di Malang. 

Setiap harinya, kata Nanik, Friska didampingi ibunya. Friska juga biasanya ditemani saudara-saudaranya. Namun, yang namanya musibah, memang tidak bisa diterka. Waktu kejadian, yakni Rabu (13/12) sore, ibu Friska, Ayu tengah sibuk. Sementara, rumah dalam keadaan sepi. Sehingga, menyisakan mereka berdua. 

Nanik  mengisahkan, kalau Ayu saat itu sedang berada di dapur. Ia tengah membersihkan piring. Semula, putrinya memang ada di samping Ayu. Namun, tak lama Friska menghilang. Bocah yang baru bisa jalan itu, rupanya meninggalkan rumah. Ia pergi menuju keramba yang ada di Sungai Kolursari. Jaraknya rumah dengan keramba itu memang tak begitu jauh. Hanya sekitar 70 meter.

MASIH BALITA:

Jenazah Friska usai tenggelam di sungai Kolursari, Rabu (13/12) lalu.
(Polsek Bangil for Jawa Pos radar Bromo)

Kehendak kuasa, tak bisa dilawan. Entah mengapa, sungai yang biasanya ramai dengan orang itu mendadak sepi. Tidak ada orang yang mencuci ataupun mandi di sungai. 

“Kami benar-benar tak menyangka kejadian ini menimpa Friska. Biasanya, sungai di Kolursari ini ramai. Ada yang mandi ataupun mencuci. Tapi sore itu, benar-benar sepi,” kisah dia. 

Friska yang diduga hendak melihat ikan, seperti menjemput maut. Siapa yang menyangka, ia tiba-tiba jatuh ketika berada di tepi keramba. Saat kondisinya tak lagi bergerak itu, ada warga yang melihatnya. Bergegas, Friska pun diangkat. Namun, kondisinya sudah tak bernyawa.

“Sempat dicoba dengan nafas buatan. Tapi, Friska sudah tak bisa diselamatkan,” ungkapnya penuh kesedihan. Seketika saja, tangis histeris Ayu meledak. Ayu tak bisa menahan kesedihannya, melihat anaknya tampak kaku dan tak lagi bergerak. Ayu berusaha untuk membangunkan anaknya. Barangkali, sang anaknya membuka bola matanya. Namun usahanya sia-sia.

 Meski berusaha ikhlas, Nanik benar-benar tak menyangka, peristiwa itu menimpa keponakannya. Padahal, kedatangan Friska bukan hanya untuk sambang. Friska datang, untuk berobat ke dokter di sekitar rumah Nanik.

TKP:

balita tewas

Keramba ikan di sungai Kolursari yang menjadi lokasi tenggelamnya Friska, Rabu (13/12) sore lalu.
(Polsek Bangil for Jawa Pos radar Bromo)

Nanik menyampaikan, kalau keponakannya itu sedang sakit batuk pilek. Sakitnya itu, hanya “jodoh” saat diobati di dokter yang ada di Kolursari. “Anaknya memang sedang sakit. Kalau sakit, jodoh-nya berobat ke sini,” tambahnya lagi.  

Kepada koran ini, Nanik berharap, musibah yang menimpa keluarganya untuk tidak lagi dibahas. Supaya, Friska dan keluarga yang ditinggalkan bisa tenang.

(br/fun/one/fun/JPR)

Source link