Inovasi Pupuk Dari Hama – Radar Surabaya

Mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) berhasil membuat inovasi pupuk yang berasal dari hama tanaman atau gulma. Salah satu yang mereka manfaatkan adala gulma dari tanaman wedusan.

“Kalau dibiarkan hanya akan merusak tanaman, dan sayang kalau membuang-buang waktu untuk sekadar membersihkan gulma dan dibuang begitu saja,” urai Lukiana salah satu mahasiswa.

Gulma jenis ini mudah ditemui. Banyak dari mereka tak sadar bahwa daun ini merupakan gulma atau hama tanaman. Dimana ia bisa mengambil makanan dari tanaman inti yang ditanam. “Gulma ini sangat mengganggu tanaman, seringkita temui di jalan, di dekat tanaman hias dan tanaman buah serta sayur,” paparnya.

Gulma wedusan yang ia manfaatkan, bisa juga diganti dengan gulma lain seperti tanaman turi dan lantoro. Dimana kandungan green manure atau pupuk hijau dari tanaman ini terbilang tinggi. Bila ia dibiarkan hidup akan merusak tanaman, namun berbeda khasiatnya ketika diolah menjadi pupuk. “Jadi kita oleh menjadi pupuk, pertama dalam bentuk pupuk segar yang ditanam ditanah dan jenis pupuk yang dikomposkan,” lanjut dia.

Sementara itu, Mirza mengatakan, kandungan Nitrogen, Pospor dsn Kalium dalam gulma ini sangat bagus untuk kebutuhan tanaman. Memang tak secepat pupuk kimia, namun b isa digunakan dengan bertahap dan ramah lingkungan. Apalagi, bisa memanfaatkan gulma yang mulanya mengganggu menjadi bermanfaat bagi tanaman.

Menjadikannya pupuk segar bukanlah hal sulit, cukup dengan melakukan pencacahan pada gulma dan didiamkan selama 10 hari. Kemudian, gulma di tanamkan di tanah yang hendak ditanami tumbuhan. “Kalau yang dikomposkan, bisa menungu waktu 2 sampi tiga minggu. Kami andalkan miroorganisme dalam tanah untuk meremahkan gulma dan menjadikannya penyubur tanaman,” lanjut dia.

Sementara itu, Kepala Program Studi Agroteknologi UMG Rohmatin Agustina mengatakan, gulma yang dirubah menjadi pupuk ini membrikan manfaat lain selain digunakan sebagai penyubur tanaman. Gulma yang sudah dikelola ini ditanam dalam tanah, membuat tanah lebih subur dan digunakan dalam waktu lebih panjang. “Jadi untuk manfaat berkelanjutannya itu ada,” urai perempuan asal Lamongan ini. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)