Insan GenRe, Ajak Remaja Bikin Perencanaan Usia Pernikahan – Radar Jember

Baru-baru ini salah satu anggota Insan GenRe mendapat sebuah prestasi yang cukup membanggakan, yakni meraih gelar juara favorit di gelaran Duta GenRe Provinsi Jawa Timur. Adalah Heni Nur Azizah, alumnus SMA Plus Nurul Quran Rowotamtu yang juga sebagai Duta GenRe Jember jalur pendidikan, berhasil meraih gelar tersebut.

Walau tak mampu mewakili Jawa Timur dalam ajang Duta GenRe Nasional, dirinya cukup puas dengan perolehan tersebut. Apalagi menjadi Duta GenRe menjadi salah satu impiannya sejak bergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR) semenjak 2015 lalu, dan sekaligus kini tergabung dalam komunitas Insan GenRe Kabupaten Jember.

Insan GenRe merupakan salah satu program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang memiliki tujuan agar remaja memiliki perencanaan yang lebih matang dalam mempersiapkan keluarga. Sedianya ada banyak komunitas yang berada di bawah naungan BKKBN yang menjalankan program tersebut, namun dengan berbagai nama.

Seperti PIKR dari beragam basis, Duta GenRe yang juga menjadi role model remaja, serta Saka Kencana yang menjalankan program GenRe di kelompok Pramuka. “Daripada jalan sendiri-sendiri, maka BKKBN Jawa Timur menggabungkan seluruh komunitas tersebut ke dalam naungan Insan GenRe,” ujar Devi Martadiana, ketua Insan GenRe Kabupaten Jember.

Keberadaan komunitas ini di berbagai kabupaten dan kota memegang peran istimewa sebagai gabungan remaja yang peduli terhadap persiapan pembentukan keluarga. Hal tersebut tertuang dalam tiga program kerja Insan Genre khususnya di Jember.

Yang pertama adalah GenRe Goes to Village, di mana Insan GenRe memfasilitasi dan memberikan inovasi serta informasi terbaru mengenai permasalahan keluarga di desa-desa melalui PIKR Masyarakat. “Sekarang di Jember, salam satu kecamatan minimal ada satu PIKR masyarakat, target kami minimal satu desa satu PIKR,” lanjut Devi.

Selanjutnya adalah GenRe Goes to Campus, yang menyasar program-program GenRe di kalangan mahasiswa serta masyarakat umum, dan GenRe Goes to School yang menjadikan pelajar sebagai segmen yang dituju. “Bentuk kegiatannya beragam, semuanya adalah bagian dari sosialisasi dan pencegahan permasalahan keluarga,” ujar mahasiswi semester delapan tersebut.

Ada tiga substansi utama yang ingin diselesaikan oleh Insan GenRe yaitu pernikahan dini, seks bebas sebelum menikah, dan penyalahgunaan narkotika serta obat-obatan terlarang. Pernikahan dini menjadi topik utama, mengingat maraknya fenomena tersebut di berbagai kalangan masyarakat.

Menurut Heni Nur Azizah, banyak masyarakat terutama di daerah pelosok yang beranggapan lebih baik menjadi janda muda ketimbang perawan tua. Hal tersebut membuat para orang tua seakan berlomba-lomba menikahkan anaknya, meskipun masih belum layak secara fisik dan usia. “Kalau anak lulus SMA belum menikah atau tunangan, rasanya dianggap sebagai aib, dianggap belum laku,” keluhnya.

Bahkan di tempat tinggalnya ada saja anak SD yang dinikahkan begitu lulus sekolah. Alasannya beragam, mulai dari ‘kecelakaan’ hamil duluan atau dipaksa menikah demi pendapat di atas. “Bahkan ada yang pengen sendiri. Munculnya dari banyak rangsangan baik dari diri sendiri, dari faktor lingkungan, maupun paksaan dari orang tua,” lanjut Hani.

Hal tersebut juga diiyakan oleh Devi, yang memandang budaya di masyarakat sangat berpengaruh dalam pengetahuan pernikahan pada remaja maupun orang tua. Akibatnya muncul keinginan untuk menikah muda supaya tidak menjadi aib bagi keluarga. “Sebab dia tinggal di lingkungan seperti itu,” kata gadis berhijab tersebut.

Mengantisipasi hal tersebut, BKKBN melalui Insan GenRe memiliki program pendewasaan usia pernikahan yang disosialisasikan dalam setiap kesempatan. BKKBN juga telah menggalakkan aturan usia pernikahan, yaitu 25 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan.

“Kenapa usia segitu? Sebab pada usia di bawah itu, dari segi kesehatan dinilai belum matang baik secara fisik maupun mental. Usia 16 tahun misalnya, adalah masa-masa remaja mengalami pubertas awal. Ini sangat berisiko dalam banyak hal, khususnya kesiapan reproduksi. Akibatnya akan terjadi kasus seperti kematian ibu dan anak, berat bayi lahir di bawah normal, dan berbagai kondisi lainnya,” papar Devi.

Belum lagi faktor pemenuhan kebutuhan ekonomi yang harus dihadapi para pasangan muda. Rata-rata pada pernikahan dini, mereka masih belum memiliki pegangan hidup sendiri dan tak punya kemampuan dasar yang cukup. 

Karena itu Insan GenRe tidak hanya memberikan pemahaman pendewasaan usia perkawinan tetapi juga memberikan life skill kepada remaja agar lebih produktif. “Istilahnya jangan sampai tutup buku buka terop (tenda),” selorohnya.

Menjadi pioner dalam pendewasaan usia pernikahan, bukan berarti Insan GenRe tak menghadapi kendala. Tak sedikit kelompok masyarakat yang menentang prinsip tersebut. Hal itu pun dialami Heni dan Devi dalam beragam sosialisasi yang mereka jalankan. Yang paling banyak adalah pertentangan sudut pandang berbagai aspek.

“Pernah saat kita memberikan sosialisasi di kalangan pesantren, kita menghadapi banyak kontroversi. Dari sisi agama, ada pendapat bahwa seseorang boleh menikah jika sudah mencapai akil balig. Ini wajar, semua punya penilaian dan tanggapan yang berbeda sehingga menghasilkan pola pikir berbeda,” papar Devi.

Kalau sudah begitu, Devi dan Heni serta para penggawa Insan GenRe lainnya hanya bisa kembali menekankan perencanaan keluarga, bagaimana posisi pria maupun wanita ketika berkeluarga dan berketurunan yang berkualitas. “Kita tidak menuntut dan mewajibkan remaja, tapi lebih ke membangun kesadaran dan memberikan pencegahan preventif serta memberikan solusi perencanaan dan pendewasaan usia perkawinan,” tegasnya.

Belum lagi kalangan yang menganggap banyak anak banyak rezeki. Ini tentu mengomplekskan permasalahan yang sudah ada. “Masih ada yang berprinsip banyak anak banyak rezeki, tapi sudah mulai berpikir perencanaan. Sebab tuntutan zaman sekarang berubah, sulit tanpa perencanaan,” ujar Heni.

Karena itu sebagai langkah pencegahan dan tindak lanjut, faktor yang paling memengaruhi motivasi menikah dini adalah informasi. Pihaknya menanamkan dampak pernikahan dini kepada seluruh elemen masyarakat dengan pendekatan praktis. “Ketika kita ngomong pernikahan dini, kurang ngena ketika kita menjabarkan dari berbagai aspek teoritis,” pungkasnya.

(jr/lin/das/JPR)

Source link