Suasana lingkungan yang terasa sejuk dengan rindangnya ratusan tanaman jambu cukup terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek mengunjungi salah satu kebun yang berada di wilayah Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek kemarin. Bersamaan itu, terlihat seorang pria mencangkul tanah di area tanaman tersebut. Sesekali dirinya membungkus beberapa buah jambu yang masih kecil.

Bukan hanya itu, setelah melakukan hal tersebut, dirinya memindahkan beberapa bibit jambu yang siap dipindah tanam. Dialah Iwan Setiawan, petani setempat yang sukses membudidayakan jambu merah juga mahir dalam pembibitan.

“Sebagian bibit jambu ini telah diambil pelanggan dan ini sisanya,” ungkap Iwan Setyawan kepada Koran ini.

Sebenarnya, sebelum menekuni proses pembibitan, terlebih dahulu dirinya memelihara tanaman jambu tersebut. Ini dimulai sekitar 10 tahun lalu ketika duduk di bangku kuliah.

Pria yang akrab disapa Iwan ini di sela sebagai mahasiswa, diminta sang ayah membantu mengurus kebun. Sebab, kala itu sang ayah mulai menanami kebunnya dengan tanaman yang memiliki nama latin Syzygium aqueum. Sehingga butuh tenaga ekstra merawatnya agar tumbuh subur dan bisa menghasilkan buah.

“Jadi semenjak itu saya mulai menanam jambu di sini,” imbuhnya.

Sekitar dua tahun berselang, tanaman yang terus dirawat tersebut tumbuh subur hingga menghasilkan buah cukup banyak. Itu karena jambu mudah beradaptasi dan tahan penyakit, bahkan perawatan yang diberlakukan pun tidak terlalu sulit.

Cukup diberi pupuk secara rutin, membungkus buah yang masih kecil agar tidak dimakan kelelawar, menyemprot dengan pestisida jika diserang hama, juga memanennya jika usia panen. Ketika dirinya mulai jenuh, dia pun mencari jalan lain untuk mengusir kejenuhan tersebut dengan cara mengecek kondisi tanamannya setiap hari.

Akhirnya, Iwan pun menemukan ide untuk pembibitan tanaman tersebut. Pembibitan yang dilakukan dengan cara memotong batang yang muda dan mencukur semua daunnya. Setelah itu, batang pohon ditaruh dalam polibag.

Dalam percobaan kali pertama, ternyata pembibitan gagal. Sebab, setelah masa persemaian sekitar satu bulan, pada batang jambu tersebut tidak muncul daun. Malah muncul rumput di area tanam tersebut. Kendati demikian, dirinya tidak patah semangat dan terus mencari tahu penyebab kegagalannya.

Ternyata kegagalan tersebut disebabkan komposisi media tanam antara sekam, tanah, dan kompos tidak seimbang.

“Dari situ saya belajar media tanam untuk pembenihan jambu itu harus didasari komposisi yang tepat agar bisa muncul daun,” tutur pria 34 tahun ini.

Kala itu dirinya memulai kembali pembibitan jambu tersebut hingga berhasil. Buktinya, setelah satu bulan persemaian, dalam batang tersebut muncul daun. Dengan kata lain, di bawah batang tersebut telah tumbuh akar. Semenjak saat itu, dirinya langsung menawarkan bibit jambu yang dibuat sendiri.

Ternyata, bibit jambu tersebut disukai petani dan pecinta tanaman lainnya. Buktinya, banyak sekali pesanan benih yang menghampirinya. Kemungkinan karena bibit jambu miliknya yang memiliki akar serabut cocok untuk ditanam halaman. Selain itu, karena proses dimulai dari tanaman kecil, ketika besar akar sudah banyak dan tidak mudah tumbang.

“Selain itu karena proses penanaman dari batang, tanaman ini cepat berbuah makanya banyak yang suka,” jelas bapak satu anak ini. (tri/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)