Jadi Kawasan Pemantau Pelabuhan Kalimas – Radar Surabaya

Menjadi pusat perdagangan pada masa penjajahan Belanda membuat kawasan Kalimas memiliki ciri historis tersendiri. Dimana di kawasan ini masih banyak peninggalan bekas pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal dari berbagai negara.

Moch Khaesar J.U-Wartawan Radar Surabaya

Kawasan Kalimas dahulunya merupakan dermaga bersandarnya kapal-kapal dari berbagai daerah dan negara di Surabaya. Pedagang banyak memperdagangkan kain hingga hasil perkebunan dan ternak lainnya di kawasan ini.
Dengan terkenalnya kawasan ini sebagai pelabuhan, banyak bekas bangunan yang mendukung kegiatan kepelabuhanan pada zaman dulu. Salah satunya adalah menara pengawas yang ada di sisi utara dari Jalan Kalimas Udik.
Sejarahwan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro mengatakan, kawasan ini dahulunya merupakan kawasan pelabuhan. Dimana banyak kapal-kapal dari berbagai kota dan negara bersandar di kawasan ini.
“Karena memang pedagang ini banyak berkumpul dan datang ke kawasan Kalimas, jadi banyak bangunan khas pelabuhan di Jalan Kalimas Udik,” ungkapnya.
Purnawan mengatakan, sebelum pemerintah Belanda memindahkan pelabuhan ke kawasan Tanjung Perak, kawasan ini dulu penuh sesak dengan pedagang yang datang. “Yang pasti transaksi di sini memang banyak dan ramai,” terangnya.
Menara Syahbandar Kalimas atau menara pandang tempat pegawai negeri yang mengepalai urusan pelabuhan bertugas. Mereka memantau aktivitas kapal dan kepelabuhanan di Kalimas lewat bangunan yang tinggi menjulang tersebut.
Bangunan tersebut difungsikan untuk mengontrol semua kegiatan yang berhubungan dengan pelabuhan, distribusi barang, dan perdagangan. Di bangunan itu juga terdapat logo Surabaya yang pertama kali, yakni saat masih menjadi karesidenan.
“Jalan Kalimas Udik banyak dijumpai bangunan tua, di sana juga banyak bangunan yang bertuliskan cagar budaya. Rute ini tentu saja favorit turis-turis lokal dan asing jika mengunjungi Kawasan Ampel. (*/nur)