Jagad Keilmuan Masyarakat Madura – Radar Madura

Realitas itu bisa diamati dari pergerakan perilaku, cara berkomunikasi, dan keterlibatan manusia Madura dalam setiap tahapan perubahan zaman. Tahapan belajar-mengajar di Madura dimulai sejak islamisasi masuk Jawa sekitar abad ke-7–19 M. Meski data otoritatif islamisasi ke Madura beragam, sosok Raden Rahmat (Sunan Ampel) diduga kuat sebagai penyebar ajaran Islam di kawasan Madura.

Islamisasi sudah menjadikan kawasan Madura sebagai pusat penyebaran ajaran agama Islam. Mayoritas penduduk di Madura beragama Islam (M.C. Ricklefs, 2008). Struktur sosial masyarakat Madura berjalan dinamis seiring perkembangan dan perubahan konteks zaman. Tradisional, modern, dan terus berkembang.

Seiring perjalanan waktu, tekstur kemaduraan tersebut mengalami perubahan setiap generasi. Hari ini kristalisasi perubahan dan perkembangan tekstur kemaduraan semakin matang (Wiyata, 2012). Pembentukan ideotipe (watak manusia) dan biotipe (struktur sosial) kemaduraan terlihat jelas dalam setiap babakan generasinya. Namun, meski zaman terus berjalan, karakter orang Madura dalam menjaga wibawa kemaduraan tak pernah pudar.

Wibawa moralitas dalam pandangan masyarakat Madura salah satunya adalah tatengka. Tatengka merupakan penjabaran dari perilaku dalam berkehidupan (hablum minannas wal alam). Anak pesantren menyebutnya akhlak.

Sebagaimana teori koneksionisme, perilaku lahir akibat sentuhan stimulasi dan respons dalam realitas tertentu (Skinner dan L. Thorndike, 1980). Tatengka di kalangan masyarakat Madura juga saling terkait erat dengan reaksi respons dan stimulasi realitas manusia, alam, dan agama masyarakat Madura. Warga Madura satu dengan lainnya selalu menjaga wibawa moral ini bertahan secara turun-temurun.

Salah satu wujud tatengka ini adalah; pertama, selalu hati-hati menjaga ikatan persaudaraan (nyagara, abala tatangga). Kedua, membiasakan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi (andhap asor, angko keng ta’ pengko/berani tapi tidak sewenang-wenang). Ketiga, merasa sungkan apabila tidak memberi pelayanan dan penghormatan yang sama.

Tatengka sebagai representasi kesuciaan kebudayaan Madura menjelma nasionalisme etnisitas. Orang Madura di mana pun berada sangat menjaga amanat tatengka. Fakta idealisasi orang Madura dalam menjaga bendera budaya ini setidaknya mengubur anggapan (stereotipe) negatif tentang orang Madura.

Tatengka yang sarat nilai kehidupan, pesan bertuah ajaran agama, dan tafsir sakral alam ini diduga bermula dan bermuara di sebuah tempat bernama langgar (langgar, Madura). Di langgar inilah siklus tatengka mengalir ke sudut-sudut hati masyarakat Madura secara dinamis.

Langgar pada mulanya hanya dimiliki seorang yang dipercaya memiliki kemampuan di bidang ilmu agama. Pemilik langgar disebut dengan keyae/keyaji. Istri keyae disbut ma’ nyae. Anak keyae, jika laki-laki disebut lora dan disebut neng apabila perempuan. Sedangkan santri keyae disebut bindara. Masyarakat menjadikan langgar pada masa awal sebagai sentral kegiatan kemasyarakatan. Sehingga, keberadaan langgar saat itu sangat keramat dan multifungsi.

Masyarakat Madura membagi tingkatan kiai sesuai dengan tugas dan wilayah garapannya. Pertama, kiai pesantren. Tokoh agama ini memiliki tugas mengurus pesantren. Tugas dan garapannya sangat luas. Indikator yang bisa masuk ke ruang pesantren orang tertentu. Yaitu, memiliki potensi keilmuan mumpuni, keturunan darah biru, memiliki kedigjayaan, dan pandai berpidato.

Kedua, kiai kampung. Tokoh agama ini adalah sosok orang biasa, namun memiliki kemampuan di bidang pengetahuan agama meski terbatas. Memiliki harapan yang lebih terbatas daripada kiai pesantren. Hidup bersama masyarakat tanpa batas. Lebih populis karena waktu berkumpul dengan warga lebih leluasa dibanding kiai pesantren. Biasanya, kiai kampung adalah santri jebolan pesantren.

Penduduk di Madura, baik yang berdomisili di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, menjadikan langgar sebagai pusat energi keilmuan. Masyarakat bisa belajar ilmu agama, budaya, kanuragan, dan sejumlah ilmu kehidupan lainnya. Yang memegang peranan dominan –inti– di langgar adalah kiai. Kiai di sini adalah kiai kampung. Mereka menjadi panutan yang membuka diri memberikan bakti kepada masyarakat.

Ketulusan sang maha guru ini membekaskan ikatan rasa yang sangat kuat di hati masyarakat. Seakan, pernyataan kiai adalah mantra langit. Wajar jika warga memercayakan anak-anak mereka untuk mengaji ilmu agama dan ilmu kehidupan kepada kiai di lembaga pendidikan (sekolah) bernama langgar. Praktik persekolahan di sekolah masyarakat perkampungan Madura ini pada era kejayaannyasekitar abad ke-19 berhasil mencetak lulusan dengan bekal keilmuan yang multiilmu; ilmu agama,ilmu kedigjayaan, dan ilmu kehidupan (tatengka).

Sayang, sejak terbukanya kontak kebudayaan dari luar Madura, sedikit demi sedikit pertahanan tatengka kemaduraan tergerus. Fungsi dan peran langgar sebagai pusat keilmuan mulai berubah. Lembaga bergengsi ini mulai dijauhi peminatnya. Sekolah-sekolah modern dengan aneka propaganda sains dan teknologi dinilai masyarakat lebih menjanjikan.

Langgar sebatas menjadi tempat alternatif selepas anak-anak belajar di sekolah siang hari. Akan tetapi, seperti apa pun kondisinya, langgar sudah menjadi peletak bangunan keilmuan bagi komunitas Madura. Salah satu realitas penting yang perlu dipertahankan sampai kapan pun adalah metode belajar yang lahir dari rahim langgar. Yaitu, metode belajar pal-apalan. (*)

*)Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Mahasiswa program doktor UIN Sunan Ampel Surabaya.

(mr/*/bas/JPR)