Jatuh Cinta karena Santun dan Tidak Neko-Neko – Radar Kediri

Kabar itu datang tak lama setelah Abdul Kholik menyelesaikan santap sahurnya, Sabtu dini hari (9/6). Istri tercintanya Binti Nafiah telah tewas karena dibunuh perampok di kediamannya di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.

Saat itu juga, karena rasa duka yang masih mendalam membuat dirinya beristighfar. “Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah..” ucap Kholik disela-sela ceritanya.

Dengan gamis hitam dan sarung yang dipadukan dengan peci putih miliknya, ia menceritakan kronologis kejadian sembari duduk bersila di tikar yang digelar di ruang tamunya.

Kholik menceritakan ketika kejadian itusedang berada di Sidoarjo. Sehari-hari ia memang bekerja di sana, baru pulang ketika ada pemasukan lebih untuk ongkos transportasi.

Tak tentu, terkadang seminggu sekali ia pulang melepas rindu dengan anak dan istrinya. Namun tak jarang pula ia harus menghabiskan waktu lebih lama untuk pulang. “Tapi setiap hari pasti komunikasi. Entah itu lewat telepon atau sekadar berkirim pesan,” terangnya.

Kholik sehari-hari bekerja di proyek bangunan. Selain itu, ia kerap kali didaulat menjadi penceramah. “Kalau itu kan sudah menjadi tugas kita untuk menyiarkan ajaran Allah,” terangnya merendah ketika disinggung profesinya sebagai penceramah.

Prinsip agama yang dipegang Kholik dan Binti sangat kuat. Tidak ada kompromi dalam hal itu. “Waktunya bekerja ya bekerja. Waktunya mengaji, ya mengaji. Hal itu juga yang kami terapkan pada kedua anak saya,” tegasnya.

Memang, Kholik dan Binti dulunya tercatat pernah menimba ilmu agama di Ponpes Darussalam Sumbersari, Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Selain belajar agama, ia dan calon istrinya (waktu itu)  juga sering diminta untuk membantu mengajar mengaji.

Dari situlah awal mula ia mengenal sosok Binti. Akhirnya, ketika ada acara Qiroah di luar ponpes, ia mulai jatuh hati. Kholik menjelaskan bahwa kepribadian Binti yang santun dan alim membuatnya yakin untuk menjadikan seorang pendamping hidupnya.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak, Silvina Zakiyatul dan M. Sirojul Munir. Sang kakak sekarang sedang menempuh pendidikan di Ponpes Darussalam Sumbersari, sedang adiknya masih SD kelas 2.

Menurut pengakuan Kholik, istrinya adalah tipikal ibu rumah tangga yang tidak neko-neko. Kesehariannya dihabiskan untuk merawat anak keduanya, termasuk antar-jemput sekolah. Selain itu, Binti juga berjualan barang kebutuhan sehari-hari di toko kelontong yang menjadi satu dengan rumahnya.

“Kalau saya kasih nafkah saja nanti pasti habis untuk kepentingan dapur. Namun jika saya buatkan toko seperti ini kan bisa untuk usaha juga,” papar Kholik sembari menghela nafas mengingat perjuangannya dahulu kala bersama istri untuk merintis toko sedikit demi sedikit.

Tidak hanya rajin beribadah dan pintar mengaji, Binti juga mempunyai rasa sosial yang tinggi. Binti sudah setahun terakhir ini merawat anak yatim di sekitarnya meskipun kehidupannya sendiri juga pas-pasan.

Binti adalah anak pertama dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Ia juga tercatat sebagai salah satu pengurus Fatayat NU di kabupaten Kediri. “Sering ikut pengajian-pengajian,” ujar Kholik.

Dikarenakan Kholik bekerja di Sidoarjo dan anak sulungnya yang mondok, maka Binti hanya tinggal berdua saja dengan anak lelakinya di rumah. Mungkin hal inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan tindakan keji tersebut.

Malam sebelum kejadian, antara pukul 10.00-11.00, Kholik masih sempat bertukar kabar lewat telepon dengan istrinya. Tidak ada pembicaraan yang aneh atau firasat apapun. Hanya sekadar memberi kabar tentang kondisi masing-masing dan melepas rindu.

Minggu pagi (10/6), akhirnya Binti dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang masjid. Tak jauh dari rumahnya, Binti dimakamkan tepat pukul 08.00, bersebelahan dengan makam ibunya. Setelah pada malamnya Binti diotopsi di RS Bhayangkara Kediri.

Meskipun hasil visum sudah keluar, Kholik enggan bertanya kepada petugas yang ada. Kholik mengaku sudah ikhlas dan pasrah dengan apa yang menimpa keluarganya. “Kalau pun pelakunya tidak tertangkap sekarang, nanti di akhirat pasti tertangkap,” ujarnya penuh ketabahan sembari mengantar tamu yang pamit pulang.

(rk/die/die/JPR)

Source link