jeding miring – Radar Kediri

UNIK: Jeding miring yang berada di Desa Satak, Puncu.
(M FIKRI ZULFIKAR – JawaPos.com/RadarKediri)

KEDIRI – Bentuknya seperti bak mandi. Tapi terbuat dari batu alam. Bila musim penghujan seperti ini selalu terisi air. Itulah Jeding  Miring. Situs yang diperkirakan peninggalan zaman Majapahit yang berada di Desa Satak, Kecamatan Puncu. Tepat berada di tengah-tengah perkebunan Damarwulan. Perkebunan yang masih bagian dari PTPN XII Ngrangkah Sepawon.

Menurut keterangan Dewo, situs itu sering dikunjungi oleh peneliti dari berbagai perguruan tinggi di tanah air. Karena itulah warga, menurut Dewo, berkeyakinan bila Jeding Miring sangat penting keberadaannya.

Keyakinan warga itu juga dibenarkan oleh sejarawan Achmad Zainal Fachris. Penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri ini menyebut Jeding Miring sebagai waterbak. Merupakan salah satu peninggalan arkeologis yang ada di lereng Gunung Kelud.

“Memang banyak situs tercecer yang mayoritas era Majapahit,” ungkap ahli sejarah lulusan Universitas Negeri Malang ini.

Selain waterbak atau Jeding Miring itu, menurut Fachris, masih banyak situs lain yang tercecer di lereng Gunung Kelud. Tersebar mulai dari Puncu, Kepung, hingga Kasembon di Kabupaten Malang. Fachris bahkan memperkirakan masih banyak lagi situs bersejarah di sekitar lokasi Jeding Miring itu.

“Dengan ditemukan situs-situs bersejarah seperti waterbak ini menunjukkan bahwa Gunung Kelud merupakan gunung suci atau pawitra di Jawa Timur,” terangnya.

Menurut guru sejarah di MAN 2 Kota Kediri ini, situs-situs itu menjadi penting karena sebagai identitas Gunung Kelud yang dulu dikenal sebagai Sang Hyang Kampud. Sehingga diperlukan cara hingga pemeliharaan situs tersebut agar tidak hilang atau malah rusak. Terlebih karena aktivitas tambang.

Sementara itu, Agus ‘Dewo’ Widodo, warga Kampung Perkebunan Damarwulan, menerangkan bahwa Jeding Miring banyak menarik minat orang untuk datang. Tak hanya peneliti tapi juga warga sekitar.

Dewo bisa menjelaskan itu karena rumahnya dekat dengan lokasi Jeding Miring. Menurutnya sering peneliti datang. Meneliti sejarah dan asal-muasal situs. “Beberapa ada yang datang dari Jakarta. Ada juga komunitas-komunitas pemerhati sejarah di Kediri yang sekadar melihat atau meneliti,” jelas Dewo.

Sementara bagi warga, Jeding Miring dianggap sacral. Di waktu-waktu khusus masih banyak warga yang datang. Itu terlihat dari beberapa sesajen yang masih ada bekasnya di batu berbentuk bak mandi itu. “Walau tempatnya berada di tengah hutan. Tapi Jeding Miring ini masih banyak yang mendatangi,” kata Dewo.

Tentang Waterbak ‘Jeding Miring’

Dimensi                1,5 m x 0,5 m x 0,5 m

Bahan                   Batu alam

Bentuk                 Bak mandi

Lokasi                  Desa Satak, Puncu / Lereng Kelud

Asal                      Era Majapahit (perkiraan)

Fungsi                  Belum diketahui

(rk/fiz/die/JPR)

Source link