Jember Bisa Belajar Pariwisata dari Mancanegara – Radar Jember

Model bisnis tersebut  memberi penekanan pada pengembangan sebuah destinasi wisata baik dalam lokal, regional dan nasional dan internasional secara berkelanjutan di masa depan. Apalagi sektor pariwisata adalah industri yang sangat menghargai keselaran hubungan manusia, lingkungan, budaya, wisatawan dan industri serta peran pemerintah dalam mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dalam memenuhi kehidupan manusia modern.

Menurut Sirajuddin SSTPar, dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, pariwisata saat ini semakin memperkuat jati dirinya. Selain sebagai alat untuk mengenalkan budaya dan keindahan alam Indonesia beserta isinya, juga sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Model bisnis pariwisata yang berkelanjutan bukan lagi berbicara sosial semata, tapi sudah jauh melangkah dengan pengembangan model bisnis demi keberlanjutan masa depan semua pihak yang terlibat dalam sektor ini,” papar Direktur yayasan Komitmen Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Indonesia (Kompparindo) itu.

Dalam workshop dan konferensi internasional bertajuk Managing Tourism as a Sustainable  Model Business for Sustainable Future di Jogjakarta 31 Oktober-2 November lalu, topik bahasan ini menjadi hal yang paling menarik minat oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Selama ini kontribusi pariwisata di tiap daerah tidak sama baik kuantitas maupun kualitas,” imbuhnya.

Padahal pariwisata akan memainkan peran 2020 dengan datangnya 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia. Belum lagi inisiasi pengembangan pariwisata berbasis IT dengan dukungan SDM yang kompeten. “Pariwisata akan menjadi suatu kesatuan dengan kegiatan masyarakat berbagai sektor,” tegas tokoh yang juga dosen pariwisata di Unej dan IAIN.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak semata-mata melihat sisi keberlanjutan lingkungan, budaya, alam dan manusianya, tetapi harus berkontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan arahan beberapa ahli dari Inggris, Amerika Serikat, Swiss, Korea, Singapura, hingga Malaysia.

“Amerika mengembangkan pariwisata bukan hanya jasa tetapi juga pengelolaan jangka panjang. Inggris merencanakan resor, destinasi dan hotel dengan memikirkan kesediaan SDM yang mampu mengubah keinginan wisatawan. Korea menciptakan sensasi dengan budaya dan sikap sopan santun dalam menyambut tamu. Tiongkok memoles destinasi dengan citra kawasan dan daya juang masyarakat untuk membangun filosofi. Prancis selalu menciptakan kesan positif sebagai kota wisata dunia,” paparnya.

Menciptakan destinasi wisata, kata dia, bukan memperhatikan bentangan alam dan geografis wilayah tetapi lebih pada penataan kawasan berdasarkan kebutuhan wisatawan. Pariwisata berkelanjutan adalah suatu tindakan dalam membangun pariwisata dengan menggabungkan  kepentingan ekologi, budaya, alam dan kehidupan manusia berdasarkan norma etika yang berlaku secara universal. “Tentunya dengan tetap memberikan ruang untuk memanfaatkan ekologi, budaya, alam dan berbagai sumber daya dalam konteks kegiatan model bisnis pariwisata. Perubahan ekologi, budaya dan alam akan diikuti perubahan dan pergantian generasi yang mengelola lingkungan, budaya dan alam dalam pariwisata,” pungkasnya.

(jr/lin/hdi/das/JPR)

Source link