Jennifer Martinne, Guru Muslim asal Belgia – Radar Surabaya

DENGAN mengenakan kebaya khas busana nasional, Jennifer Martinne masuk ke salah satu ruangan kelompok belajar sebuah TK swasta di Gresik. Sebagianbesar murid yang masih bocah terheran melihat bule cantik datang mengenakan jilbab dan menyapa dengan sapaan khas ‘Assalamualaikum’.

Lalu, dengan penuh percaya diri Jennifer Martinne mendekati satu persatu murid playgroup yang ada di kelas. Dia memberikan percakapan ringan dalam Bahasa Inggris, dan diikuti secara fasih oleh murid-muridnya.

Dengan ramah dan sabar, perempuan yang kini menetap di Yogjakarta tersebut bisa mengambil perhatian anak-anak. Dia menggabungkan kalimat Bahasa Indonesia dan mengartikannya dengan Bahasa Inggris. Sesekali dia memberikan perintah dan permintaan dengan Bahasa Inggris. “Kalau dengan anak-anak tentunya menggunakan gerakan, ekspresi dan kekuatan suara di dalamnya,” jelas dia.

Penjelasannya yang lugas dan sederhana, membuat anak-anak usia 4 hingga 6 tahun ini lebih mudah mengerti perintah dan beberapa kosa kata baru. “Saya ingin anak-anak sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing. Sehingga saat dewasa nanti mereka sudah terbiasa dan meningkatkan kemampuan berbahasa asingnya,” jelas Jennifer.

Perempuan yang berasal dari Dermatoglifik Multiple Intelligence (DMI) Indonesia ini, berkeinginan memotivasi anak-anak agar bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Tak harus susah, kegiatan sehari-hari yang mudah ditemui anak-anak. Seperti bentuk benda, angka, warna hingga pengertian kalimat perintah dan permintaan sederhana. “Selain kepada anak-anak, juga ingin mengedukasi para orangtua agar bisa mengimbangi kebutuhan berbahasa mereka di masa yang akan dating,” lanjutnya.

Kepala TK dan KB, Kristatin menyebutkan, anak diriknya sudah mendapat pembelajaran Bahasa Inggris sederhana. Yakni, untuk mengenalkan mereka beberapa kosa kata di keseharian. Namun, ketika didatangkan langsung guru dari luar negeri, mereka dianggap Kris lebih berani dan mudah mengerti. “Jadi pembelajaran lebih menyenangkan, dan mereka memiliki rasa penasaran besar, terlebih untuk mempraktikan percakapan secara langsung,” imbuh dia. (*/ris)

(sb/ris/ris/JPR)