Kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mendapat Laporan dari Pos Pantau Gunung Sawur di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, terjadi letusan 40 amplitudo 10-32 milimeter dengan durasi 55-30 detik. “Berdasarkan laporan yang kami terima dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pantau Gunung Sawur, hampir setiap hari masih terjadi aktivitas kegempaan di puncak Semeru,” terang Wawan Hadi, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang.  

Selain letusan, Pos Pantau Gunung Sawur juga melaporkan bahwa kemarin juga sempat terjadi delapan kali embusan berdurasi durasi 30 hingga 45 detik. Serta, satu kali gempa tektonik jauh beramplitudo 7 milimeter yang berdurasi 165 detik. “Tetapi hal itu justru bagus. Gunung Semeru justru bahaya ketika tidak mengalami aktivitas vulkanik semacam itu,” jelas Wawan. 

Para pendaki masih diimbau agar tidak mendekat sampai ke wilayah puncak Mahameru. Sebab, dikhawatirkan sewaktu-waktu muncul awan panas dari kawah Semeru yang ada di puncak. Radius sepanjang 4 kilometer dari puncak menjadi kawasan yang harus steril dari manusia. Selama PVMBG belum mengembalikan status Gunung Semeru dari siaga level dua menjadi normal. 

Namun, secara umum kondisi Semeru masih kondusif bagi warga permukiman yang tinggal paling dekat dengan pusat vulkanik. Pada jarak kurang lebih 5 kilometer dari lereng Semeru merupakan wilayah perkampungan masyarakat. 

Wawan menjelaskan, walau statusnya ditingkatkan, namun Semeru tidak sampai erupsi. Hal ini menurutnya berbeda dengan Gunung Agung di Bali yang pada erupsi awal sama-sama berstatus waspada level dua. “Karakteristik setiap gunung aktif berbeda. Gunung Agung sudah erupsi dalam level waspada dua, sementara Semeru masih berdiri tegak dengan kondisi normal,” pungkasnya. 

(jr/was/das/JPR)

Source link