Julius Salaka Perkenalkan Gitar Buatan Sidoarjo – Radar Surabaya

MESKIPUN digelar pada bulan Ramadan, sambutan komunitas gitar di ibukota terbilang tinggi. Mereka ingin menyimak penjelasan Julius Salaka mengenai proses pembuatan gitarnya. Gitar yang disebut Stephallen ini telah dikenal di berbagai belahan dunia sejak tahun 2000. 

“Selain silaturahim, saya ingin tahu respons para pecinta musik, khususnya gitaris, di Jakarta dan sekitarnya. Seperti apa sih keinginan mereka,” tutur Julius Salaka, kemarin.

Pria yang akrab disapa Joel ini mengaku awalnya cuma iseng membuat gitar yang berbeda dengan gitar-gitar di pasar. Unsur customize yang diutamakan. Artinya, dia hanya membuat gitar sesuai pesanan alias based on order. “Saya tidak mengkhususkan pada genre rock, jazz, atau pop. Semua genre bisa menggunakan,” ungkapnya.

Lulusan Universitas Brawijaya Malang ini tidak menyangka kalau usaha coba-cobanya ternyata diminati banyak gitar. Makin lama pasarnya makin luas. Akhirnya, hobi ini pun berubah menjadi sumber nafkahnya. “Sampai sekarang saya menikmati hobi ini. Bekerja yang bikin senang,” katanya. 

Julius menilai kondisi industri musik saat ini tidak begitu bagus. Band-band atau artis lebih banyak menghasilkan duit hanya lewat ajang off air. Namun, dia yakin kebutuhan akan gitar custom terus ada. “Kalau bermain di dunia musik, ya harus punya terobosan atau inovasi agar instrumen yang kita buat bisa diterima,” katanya.

Menurut Joel, kelebihan gitar buatan Porong ini adalah sound-nya yang bisa disesuaikan dengan pemesannya. I Wayan Balawan, misalnya, memesan gitar khusus dengan dua leher plus sound yang sangat kaya. Tak heran, gitaris asal Bali ini bisa menghasilkan bunyi alat musik tiup atau gesek di berbagai pertunjukannya. 

Bagaimana dengan pemasaran digital atau online? Menurut Joel, di era digital ini, transaksi online tidak bisa dihindari. Namun, faktanya sekitar 70 persen orang masih menyukai pembelian secara offline untuk instrumen musik. “Mereka datang langsung untuk mencoba dan mendapatkan feel. Jadi, beda dengan bisnis produk-produk lain,” katanya.

Sementara itu, gitaris Tri Witarto Edi Purnomo alias Edi Kemput mengapresiasi kerja keras Julius Salaka dan beberapa pembuat gitar asal Sidoarjo. Sebab, produk-produk mereka sudah merambah pasar Amerika Serikat. “Harapan ke depan, semoga lebih banyak lagi produsen alat musik Indonesia yang mampu membuat alat musik berkelas dunia,” ujar Edi Kemput. (gun/rek)

(sb/gun/rek/JPR)