Jumlah Pengguna Alat Kontrasepsi Masih Rendah – Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – Pengguna alat kontrasepsi (alkon) jangka panjang di Kabupaten Semarang masih rendah. Hal itu dikatakan oleh Kepala Dinas Pemberdayan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB), Romlah usai pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB dan Kesehatan tingkat Kabupaten Semarang di aula Kantor Kepala Desa Kalibeji, Kecamatan Tuntang, Rabu (22/11).

“Prosentase akseptor KB pengguna alkon jangka panjang seperti implant masih rendah,” ujarnya. Data Dinas P3AKB menyebutkan jumlah akseptor pengguna alkon implant sebanyak 15 ribu orang. Sedangkan jumlah akseptor KB sebanyak 150 ribu pasangan dari sekitar 183 ribu Pasangan Usia Subur (PUS).

Romlah mengatakan kondisi tersebut berpengaruh terhadap sukses tidaknya program KB di Kabupaten Semarang. Sehingga pihaknya gencar melakukan perluasan cakupan pelayanan KB sampai ke tingkat Desa.

Dimana salah satu upaya yang dilakukan yaitu mengoptimalkan pelayanan KB Keliling berupa satu mobil unit pelayanan (muyan) KB. Pelayanan KB keliling dengan mobil unit pelayanan menurutnya sangat efektif menjangkau akseptor KB ataupun PUS yang akan menjadi akseptor baru baik di Desa maupun perkotaan. “Muyan KB ini dirancang seperti kamar operasi kecil untuk tindakan medis kontrasepsi operatif yang dilengkapi dengan peralatan medis operatif,” kata Romlah.

Selain itu Muyan KB juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi tentang efektifitas alkon jangka panjang kepada para akseptor. “Sehingga mereka mau beralih ke alkon jangka panjang, juga dengan Muyan diharapkan dapat meningkatkan pengguna alkon jangka panjang itu” katanya.

Sementara itu Bupati Semarang Mundjirin menegaskan pentingnya komunikasi informasi dan edukasi (KIE) guna mendukung keberhasilan program KB. Menurutnya, setiap PUS yang menjadi sasaran program KB harus mendapat informasi dan edukasi yang jelas tentang program pengendalian kelahiran yang diikutinya. “Jangan sampai mereka terkejut ketika mendapati badan menjadi gemuk atau menstruasi yang tidak tetap yang sebenarnya efek dari penggunaan alat kontrasepsi,” katanya.

Juga termasuk berbagai efek samping setiap alat kontrasepsi sehingga mereka mantap melaksanakannya. Dikatakan Mundjirin sebagian besar para akseptor KB di Kabupaten Semarang masih menggunakan alkon jangka pendek seperti suntik dan pil.

Padahal tingkat efektifitas alkon tersebut untuk mencegah kehamilan dinilai kurang tinggi. Pasalnya ada akseptor yang karena kesibukannya lupa untuk suntik atau minum pil. “Menjadi tugas para kader KB terutama para bidan di Puskesmas ataupun desa dan kader PKK untuk menjalin komunikasi dengan para akseptor itu,” ujarnya.

Adapun tujuan dari komunikasi tersebut supaya mereka mau menggunakan alkon jangka panjang seperti implant. Selain itu, tingkat kepercayaan para akseptor itu juga harus dijaga dengan memberikan pelayanan KB yang bermutu dan berstandar.

(sm/ewb/zal/JPR)