BALI EXPRESS, KUBU – Diduga kaget lantaran melihat lontaran api di Gunung Agung saat erupsi Strombolian  pada Senin (2/7) malam, seorang wanita bernama Ni Wayan Pondera, 49 meninggal dunia. Sebelum dinyatakan meninggal, wanita asal Dusun Bonyoh, di Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, ini  sempat dilarikan ke RS Pratama di Kawasan Tianyar Barat untuk mendapat pertolongan.

Camat Kubu Made Suartana mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan terkait kematian Wayan Pondera dari Babin Kamtibmas Desa Ban. Menurutnya, almarhum Pondera diduga meninggal karena kaget saat melihat api di puncak Gunung Agung.

Camat Suartana menambahkan dari keterangan suami Pondera,  setelah sempat melihat api yang diduga lahar tersebut membuatnya pingsan dan tak sadarkan diri. Agar mendapat pertolongan, Pondera langsung dilarikan oleh suaminya Komang Gati, 51  ke RS Pratama di Tianyar Barat, Kecamatan Kubu.

“Bukan meninggal karena paparan abu vulkanik atau terkena dampak langsung dari erupsi. Tetapi diduga karena terlalu kaget. Beliau sempat pingsan dan dilarikan ke RS Pratama oleh suaminya. Tapi korban tidak bisa ditolong,” bebernya saat ditemui di Kantor Perbekel Ban.

Suartana menegaskan, dari penjelasan suaminya, almarhum Pondera sejatinya tidak memiliki riwayat sakit jantung. Bahkan korban dalam kondisi sehat sebelum terjadi erupsi tersebut.

Begitu dinyatakan meninggal, jenazah Pondera langsung dibawa ke rumah duka di Dusun Bonyoh yang merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Pemakaman dilakukan di setra setempat pada Selasa (3/6) hari ini. “Atas kejadian ini, kami sudah melaporkan kepada Pemerintah Karangasem, untuk mendapat tindak lanjut,” katanya.

Sementara itu, rupanya kepanikan akibat erupsi yang terjadi pada Senin malam juga membuat  Ni Wayan Sama, 50 mengalami cedera patah tulang kaki. Wanita asal Dusun Belong Desa Ban ini terjatuh dari motor yang dikendarai suaminya Jro Bendesa Mangku Nengah Yudha saat hendak mengungsi.

Konon korban juga panik sehingga kamen yang dikenakannya terlilit di rantai motor yang ditumpanginya.  “Karena panik,  akhirnya dia mengungsi naik motor. Nah kamennya itu terlilit di rantai motor lalu jatuh. Kakinya patah. Sekrang sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa yang turun meninjau pengungsi di Kantor Perbekel Ban mengaku prihatin atas jatuhnya korban karena kaget.  Pihaknya berusaha memfasilitasi korban meninggal dan patah tulang sesuai prosedur yang ada agar mendapat santunan. Menurutnya, pemerintah daerah wajib menjamin keselamatan warganya saat kondisi seperti ini.

“Masyarakat harus diringankan bebannya. Jangan sampai sudah mengalami beban mental, mereka mengalami beban fisik lagi. Tetapi harus sesuai prosedur. Nanti dari Perbekel dan Camat yang melaporkan kepada pemerintah” paparnya.

(bx/dik/yes/JPR)

Source link