FEMI NOVIYANTI, Pecangaan

Sebagai guru, Nur Aini tidak hanya aktif mengajar. Dia juga mengembangkan kemampuan menulis yang dimilikinya. Mulai dari bergabung dengan komunitas penulis hingga aktif menerbitkan karya.

Perempuan kelahiran Tasikmalaya, 7 Juli 1982 ini menceritakan, menulis sudah menjadi hobinya sejak lama. Karena itu, dia tak merasa berat saat harus meluangkan waktu menulis usai menuntaskan tanggung jawabnya di sekolah.

Saat ini guru bahasa Jawa di SMAN Pecangaan tersebut telah menerbitkan dua buku kumpulan geguritan. Yang pertama berjudul ‘Omah Jawa ing Tengah Kutha’ yang memuat 65 geguritan dengan beragam tema. Sementara yang terbaru, dia menerbitkan kumpulan geguritan berjudul Wujuding Katresnan.

Nur Aini menyampaikan, buku terbarunya tersebut merupakan kumpulan geguritan dengan tema anak. Tema itu diangkatnya karena keprihatinan akan perkembangan anak-anak di masa sekarang. ”Saat ini anak-anak lebih dekat dengan gadget dibandingkan bermain bersama di luar rumah. Ini menjadi salah satu inspirasi di buku kali ini,” ujarnya.

Selain itu, ibu dua anak ini juga mengaku terinspirasi dari anak-anaknya. ”Melihat bagaimana mereka tumbuh dan beraktivitas sehari-hari menjadi inspirasi tersendiri bagi saya,” katanya.

Buku terbarunya tersebut berisi 70 geguritan yang semuanya bertemakan anak-anak. Buku itu ditulisnya dalam waktu cukup singkat. ”Kurang dari satu tahun,” jelasnya.

Perempuan yang juga mengajar di MTs dan MA Miftahul Huda Bulungan menyatakan, respon dari orang-orang sekitarnya cukup bagus. Banyak pula guru-guru yang meminta bukunya sebagai referensi mengajar.

Saat ini buku karyanya juga memenuhi perpustakaan sekolah dan mulai dikenalkan pada anak-anak. ”Karena tema buku ini tentang anak, jadi saya berikan kembali untuk anak-anak,” tuturnya.

Guru yang pernah meraih juara 3 dalam lomba dongeng berbahasa Jawa tersebut menambahkan, saat ini dia sedang mempersiapkan novel berbahasa Jawa. Novelnya mengangkat tema seputar remaja. Melalui aktivitasnya itu, dia berharap bisa turut mendorong generasi muda agar mau menulis. ”Selama ini saya juga berikan dorongan pada anak-anak didik saya agar mencintai dan mau belajar menulis sebagai bekal masa depan,” imbuhnya.

(ks/zen/top/JPR)