Di ruang lobi harus mengisi daftar tamu. Setelah itu dipersilakan duduk di kursi merah putih bermotif batik. Setelah menunggu sekitar 15 menit, koran ini dipersilakan menemui Agus Badrul Jamal di lantai tiga. Dia adalah Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI di Malaysia.

Saat itu JPRM ditemani Prof. Dr. H. Ari Purbayanto, M.Sc. Dia merupakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur. Ari Purbayanto membenarkan anak-anak TKI di Malaysia sulit untuk mengenyam pendidikan. Namun KBRI tidak tinggal diam.

Sebab, salah satu tugas penting kantor perwakilan RI di Malaysia memberikan perlindungan dan pelayanan pendidikan. Khususnya, kepada seluruh WNI dan anak- anak Indonesia di negara tersebut. ”Khususnya layanan pendidikan dasar yang merupakan wajib belajar sembilan tahun. Termasuk anak TKI yang berasal dari Madura,” terangnya.

Berdasar data yang dimiliki, anak-anak di Malaysia ada yang sengaja didatangkan ke  Malaysia untuk bergabung bersama orang tuanya. Ada juga yang lahir di Malaysia. Umumnya, anak-anak tersebut tidak memiliki izin tinggal. Bahkan, tidak memiliki dokumen keimigrasian.

”Itu karena kadang kontrak kerja mereka yang sangat panjang. Rata-rata di atas lima tahun. Sehingga menikah lagi atau membawa keluarganya ke Malaysia,” terangnya.

Kondisi itu yang menyebabkan anak-anak Indonesia banyak tinggal di Malaysia. Di wilayah Sabah diperkirakan sekitar 53 ribu anak, Sarawak 3 ribu anak, dan Johor Bahru 2 ribu anak. Karena itu, mereka harus disediakan akses dan layanan pendidikan dasar.

Upaya pemerintah RI dalam menyediakan layanan pendidikan bagi anak-anak TKI di wilayah Sabah diawali dengan kesepakatan Indonesia dan Malaysia. Yaitu pada Annual Consultation 2006 tentang pendirian Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Pembahasan layanan pendidikan untuk anak-anak Indonesia di Malaysia diawali pada pertemuan Annual Consultation 2004 antara Presiden Megawati dan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi. Dari pertemuan itu disepakati, bahwa Indonesia akan mengirim guru-guru ke Sabah untuk membantu pendidikan anak-anak WNI disana.

Kesepakatan tersebut selanjutnya dipertegas pada Annual Consultation 2016 antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi. Secara resmi SIKK beroperasi sejak 1 Desember 2008. Kemudian memiliki gedung sekolah  sendiri sejak 22 Desember 2013. Sekolah ini diresmikan Mendikbud M. Nuh saat itu.

Kendati demikian, sekolah tersebut tidak bisa menampung seluruh anak-anak TKI di Malaysia. Sebab mereka tersebar di berbagai titik. Sulit bisa menjangkau. Maka, didirikanlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang dikenal dengan community learning center (CLC). Pembentukan CLC ini juga dirintis TKI yang sadar pendidikan.

Di wilayah Sabah, ada sekitar 227 CLC. Namun, baru 56 CLC yang didaftarkan di Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM). Sementara di wilayah Sarawak ada 16 CLC. Pada 2016 telah didaftarkan dan mendapatkan pengesahan KPM.

Sementara untuk di wilayah Semananjung Malaysia, penyelenggaraan layanan pendidikan bagi anak-anak TKI sangat sulit. Hingga saat ini belum mendapatkan izin formal dari pemerintah Malaysia. ”Kami masih lobi-lobi agar mendapatkan izin formal. Sebab anak-anak TKI itu tidak berdosa. Pendidikannya harus kita jamin,” tambah Agus Badrul.

Sementara ini, layanan pendidikan terpaksa dilaksanakan di lingkungan KJRI Johor Bahru. Layanan pendidikan itu disebut dengan Indonesian Community Center (ICC). ICC didirikan pada 5 Januari 2014 di Putrajaya, Malaysia.

Layanan pendidikan itu diregistrasi Kemendikbud sebagai Sekolah Indonesia Terbuka (SIT) dengan 25 siswa. Selanjutnya berubah nama menjadi rintisan Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB). Saat ini terdapat 203 siswa terdiri dari 179 siswa SD dan 24 siswa SMP.

Pemerintah melalui Kemendikbud RI telah mengirim guru-guru profesional. Itu dalam rangka memberikan layanan pendidikan bermutu. Mereka ditugaskan untuk mengajar di SIKK dan CLC di wilayah Sabah, Sarawak, maupun Semenanjung Malaysia.

”Pada 2009 hanya dikirim 9 guru. Pada Agustus 2017 dikirim 100 guru untuk mengajar di CLC Sabah menggantikan guru-guru yang dikirim sebelumnya karena sudah selesai masa tugas,” terang pria kelahiran Jawa Tengah ini.

”Kelak akan banyak orang hebat Indonesia yang lahir dari CLC di Malaysia karena mereka pernah belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya,” timpal Ari Purbayanto.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

Source link