JOMBANG – Sejumlah insiden kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Jombang terus mengundang keprihatinan kalangan publik. Mereka mendesak polisi mengusut tuntas kejadian kebakaran.

“Ini kejadian serius dan penanganannya harus serius pula. Kami mendesak pihak kepolisian menyelidiki hingga tuntas,” tandas Agus Suprapto, aktivis pecinta lingkungan.

Menurutnya, kejadian karhutla bisa timbul dari dua faktor. “Ada unsur sengaja dibakar atau terbakar sendiri,” bebernya. Namun demikian, dirinya lebih cenderung sejumlah kejadian karhutla yang marak terjadi belakangan ini lebih disebabkan faktor pertama. “Artinya, kemungkinan besar disebabkan ulah manusia tidak bertanggungjawab, karenanya hal ini harus dilihat sebagai ancaman serius,” imbuhnya.
Salah satu contohnya, kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah Jambi, hingga menjadi bencana kemanusiaan yang memperihatinkan. “Tentunya kita warga Jombang tidak ingin kejadian serupa terjadi di sini,” tandasnya.

Salah satu dampak serius kejadian karhutla bisa mengancam ekosistem, polusi udara, potensi bencana longsor dan banjir. “Mungkin untuk sementara waktu dampaknya tidak terlalu kentara, namun dampaknya jangka panjang, bisa jadi yang merasakan dampaknya secara masif anak cucu kita, karenanya ini tidak bisa dianggap remeh,” tandasnya.

Sejumlah bencana banjir yang melanda wilayah Jombang, khususnya yang tinggal disekitar bantaran sungai gunting sudah menjadi bukti kongkrit. Ratusan miliar anggaran yang digelontorkan pemerintah dari APBN untuk proyek normalisasi banjir kali gunting bisa jadi akan sia-sia jika persoalan di wilayah hulunya tidak sekaligus digarap. “Bagaimana mencegah aksi pembalakan kayu hutan, menggalakkan program penghijauan untuk wilayah resapan air dan pentingnya menyadarkan masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan ini penting pula dilakukan,” pungkasnya.

Senada, Ahmad Sabri Prasojo, Konsultan pengawas proyek penanggulangan banjir kali gunting juga cenderung memiliki penilaian yang sama. Meski saat ini pemerintah tengah menggenjot proyek perbaikan tanggul, tapi itu belum bisa menjamin sepenuhnya. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan penanganan di hilir sungai, yang tak kalah penting harus ada penanganan di wilayah hulunya,” beber koordinator pengawas dari PT Indrakarya.

Dirinya memerinci, meski mendapat gelontoran dana mencapai Rp 131 miliar, sebenarnya masih ada puluhan titik rawan terdampak banjir yang belum tertangani. Dari hasil identifikasinya, setidaknya ada sekitar 72 titik terdampak banjir kali gunting. Dari jumlah itu, belum semua tertangani. “Yang kita kerjakan dikisaran 42 titik saja, itupun setelah kita petakan yang masuk skala prioritas saja,” imbuhnya.

Menurutnya, kejadian bencana banjir tahunan yang melanda wilayah bantaran sungai kali gunting disebabkan banyak faktor, karenanya penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh melibatkan stakeholder terkait. “Prinsipnya penanganannya tidak bisa hanya fokus di hilir, tapi hulunya juga harus dipikirkan,” pungkasnya.

Source link