Kematian Tersangka Narkoba Tak Wajar – Radar Madura

Apalagi Ainur Rohman meninggal usai ditangkap polisi pada Jumat (5/1). Karena itu, keluarga Ainur Rohman bersama kuasa hukumnya masih menunggu hasil visum dan otopsi dari RS Bhayangkara, Surabaya.

Kuasa hukum keluarga Ainur Rohman, Arman Syaputra, mengatakan, usai penangkapan pada Jumat (5/1), dia bersama keluarga korban mendatangi Mapolres Sampang untuk mengklarifikasi meninggalnya Ainur Rohman. Namun, aparat memanggil kepala Desa (Kades) Rong Dalam.

”Kapolres menyatakan kepada kepala desa bahwa korban meninggal. Karena itu, setelah klarifikasi, ternyata jenazahnya ada di RS Bhayangkara,” katanya.

Alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu menambahkan, Sabtu (6/1) dia bersama keluarga Ainur Rohman mendatangi RS Bhayangkara. Ternyata benar, mayat itu adalah Ainur Rohman.

”Saya dan keluarga memeriksa mayat, situasi, dan kondisinya. Pada saat itu, Kasatnarkoba meminta untuk membawa mayatnya,” ungkap Arman.

Namun, keluarga Ainur Rohman tidak ingin membawa pulang jenazah itu sebelum diotopsi dan divisum. ”Karena pihak keluarga tidak menerima atas kematian Nur Rohman (panggilan Ainur Rohman, Red) yang dinilai kurang wajar. Keluarga ingin mengetahui penyebab kematian,”  terangnya.

Sebelum dilakukan proses visum dan otopsi, Arman sempat menanyakan kepada pihak RS Bhayangkara. Katanya visum dan otopsi harus ada izin dari penyidik. Sebelumnya dokter tidak berani. Akhirnya, dibuatlah surat pernyataan.

”Dari penyidik ke dokter. Pihak keluarga menandatangani surat persetujuan visum. Sehingga, sekitar pukul 14.00 Sabtu (6/1) dilakukan otopsi terhadap korban. Baru selesai pukul 21.00. Selesai diotopsi, baru mayat dipulangkan ke rumah duka,” jelasnya.

”Setelah konsultasi ke dokter, katanya hasil otopsi bisa diketahui satu minggu. Jenazah korban tiba di rumah duka pukul 23.30,” imbuhnya.

Arman menjelaskan, otopsi dilakukan secara menyeluruh, kepala dibedah, saluran pernapasan diambil, sampel urine diambil. Semua organnya diambil. ”Itu untuk mengetahui penyebab kematian dari korban,”  ujarnya.

Ditanya upaya yang bakal dilakukan ke depan, Arman masih menunggu hasil otopsi RS Bahayangkara. Nanti akan diketahui penyebab kematian korban. ”Apakah wajar atau tidak. Kami masih menunggu hasil itu,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar menyatakan, pihaknya bersama keluarga korban masih menunggu hasil visum dan otopsi dari pihak RS Bhayangkara, Surabaya. Menurut dia, saat penangkapan, anggotanya mengamankan barang bukti (BB) enam poket SS. ”Jumlah total 2,32 gram. Yang meninggal ini diduga pengedar narkoba,” ucap perwira dengan tanda pangkat dua melati di pundaknya tersebut.

Pria asal Banyumas, Jawa Tengah, itu  menambahkan, keterangan yang diperoleh di lapangan, masyarakat sudah tahu kalau yang bersangkutan bersentuhan dengan narkoba. Dan, selama ini dia memang menjadi target pengejaran anggota. ”Kalau informasi dijebak itu belum tahu,” ujarnya.

Tofik menjelaskan, ketika mau dibawa ke RS Bhayangkara, kondisi Ainur Rohman lemas. Ketika tiba di RS Bhayangkara, Ainur Rohman sudah meninggal. ”Makanya, dilakukan otopsi dalam. Hasilnya seperti apa, nanti ada dari ahlinya. Kita tunggu saja,” pungkasnya.

(mr/rul/onk/luq/bas/JPR)