Kiai Syarif Rintis Dua Madrasah – Radar Kediri

FORMAL DAN SALAF: Sejumlah santri melintas di depan kelas MA Al Manar yang berada satu kompleks dengan Ponpes Fathul Mubtadi’in.
(REKIAN – JawaPos.com/RadarKediri)

Seiring dengan penambahan jumlah santri yang mengaji di Ponpes Fathul Mubtadi’in, Kiai Syarif terus berusaha mengembangkan pesantren. Salah satunya, dengan mendirikan madrasah diniyah hingga sekolah formal berupa madrasah aliyah (MA).

Setelah lima tahun mendirikan Ponpes Fathul Mubtadi’in, pada tahun 1955 Kiai Syarif mulai mendirikan pendidikan formal. Dia merintis pendirian Madrasah Ibtidaiyah (MI) Shirotol Mustaqim. Pendirian sekolah formal itu tak lepas dari kesadaran Kiai Syarif akan pentingnya ilmu pengetahuan umum seperti halnya ilmu agama.

Pengasuh Ponpes Fathul Mubtadi’in Kiai M. Ali Zainal Abidin mengatakan, pendirian MSIM dilakukan setelah Kiai Syarif memutuskan berdakwah lewat jalan pendidikan. Jalan ini dianggap yang paling efektif untuk menyebarkan agama Islam di bantaran Sungai Brantas. “Awalnya sekolah berbasis agama itu untuk anak-anak di Prambon,” kata generasi kedua Kiai Syarif itu tentang sekolah yang berlokasi di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. 

Keberadaan MSIM pun langsung disambut antusias warga. Mereka ramai-ramai menyekolahkan anaknya di sana. Perkembangan MSIM yang bagus membuat Kiai Syarif mendirikan sekolah formal di tingkat atasnya. Yaitu, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Mubtadi’in.

“Dua sekolah itu masih ada hingga kini, tapi namanya sudah berubah. Keduanya sudah menjadi madrasah negeri,” terang pria yang akrab disapa Gus Kanang tersebut. Meski MSIM berdiri lebih dulu, perubuahan nama pertama kali terjadi pada MTs Miftahul Mubtadi’in.

Pada tahun 1968, MTs Miftahul Mubtadi’in menjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri (MTs AIN). “Saat itu, madrasah hanya punya tiga kelas,” kenang Gus Kanang.

Selanjutnya, pada 1968 lalu, Kiai Syarif menyerahkan estafet pengelolaan madrasah kepada Kiai Yusuf Yasin, anaknya. Di tangan ayah Gus Kanang itu, madrasah berkembang pesat.

Siswanya tidak hanya berasal dari Kecamatan Prambon. Melainkan dari beberapa kecamatan lain di Nganjuk. Perkembangan positif ini membuat MTs AIN berubah status. Yaitu, menjadi MTsN Tanjungtani pada 1985 lalu. “Tahun itu pula lokasinya pindah ke Desa Sanggrahan, Prambon,” lanjut Gus Kanang tentang madrasah yang kini bernama MTsN 3 Nganjuk.

Perubahan yang sama juga terjadi pada MSIM yang awalnya di bawah  naungan Yayasan Alil Karim. Jika pada 1996 lalu bernama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tanjungtani Nganjuk, pada 2017 berubah menjadi MIN 7 Nganjuk.

Sementara itu, meski Kiai Syarif sudah merintis dua sekolah negeri, pola pendidikan di Ponpes Fathul Mubtadi’in tak berubah. Hanya saja, keturunan Kiai Syarif terus mengembangkan pendidikan formal. Di antaranya, dengan mendirikan MTs Al Manar dan MA Al Manar. “Sampai sekarang alumninya sudah lebh dari 900 anak,” urai Gus Kanang. (bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Source link