Kiptiyah Pulang Setelah 28 Tahun “Hilang” di Arab Saudi – Radar Jember

Kiptiyah hanya sempat berkirim kabar kepada keluarga lewat surat. Itu dilakukan di awal-awal dia menjadi TKW. Kiptiyah sempat beberapa kali menulis surat dan hanya bisa sekali mengirim wesel sebesar Rp 1 juta. Setelah itu, menginjak tahun kedua, dia bekerja di Arab Saudi, hingga awal tahun kemarin dia tak bisa berkomunikasi dengan anak dan keluarganya.  

Seperti mimpi. Selasa malam, Kiptiyah akhirnya bisa mendarat di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, pukul 12.00. Sebelum tiba di Bandara Blimbingsari, Kiptiyah sempat bermalam di Jakarta selama semalam. Saat tiba di Banyuwangi, Kiptiyah di jemput tiga orang anaknya dan seorang menantunya menggunakan mobil. 

Kepulangan Kiptiyah juga didampingi Chairil, Kepala Seksi Arab Saudi Kemenlu, Panji selaku Koordinator Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Serang, dan Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (P4TKI) Banyuwangi, serta Ferdinan selaku koordinator BNP2TKI Serang.

Tentu saja, suasana haru biru mewarnai penjemputan Kiptiyah. Rindu berbaur dengan hujan tangis. Kiptiyah memeluk erat anak-anaknya. 

Saking lamanya berpisah, Syaiful Hadi, anak pertama Kiptiyah, sempat lupa wajah ibunya. Demikian juga Kiptiyah, sempat lupa dengan Syaiful. Padahal, beberapa minggu terakhir mereka sering kontak lewat panggilan video.  “Beda jauh dengan dulu waktu berangkat,” kata Syaiful.

Ketika pertama kali memeluk Syaiful sejak berpisah, Kiptiyah memanggil anaknya itu dengan sebutan kakak. Kiptiyah dan Syaiful sempat terlihat kikuk. Baru setelah dijelaskan, Kiptiyah akhirnya dengan paham jika yang baru dipeluknya itu adalah anak pertamanya. 

Kiptiyah juga sempat pangling dengan anak keduanya, Umi Lutfa, 45. Dia memanggil anaknya itu dengan sebutan mbakyu. Kiptiyah benar-benar tak bisa mengenali anak keduanya itu di awal perjumpaannya. Tangis pun kembali tumpah.  

Syaiful mengaku pertemuan kembali dengan ibunya benar-benar seperti mimpi. Apalagi, dia sempat mengira ibunya itu sudah meninggal di Arab Saudi. “Terima kasih ya Allah… Saya kira ibu sudah meninggal. Alhamdulillah, saya bersyukur ibu bisa kembali dan bertemu dengan kami,” terang Syaiful yang menjemput ibunya di Blimbingsari, Banyuwangi bersama dua adik perempuannya. 

Syaiful mengaku, saat ibunya berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi, dia sedang dinas. Ketika itu belum ada cuti. Sehingga, dia tak bisa melepas keberangkatan ibunya itu. 

Awal bekerja, sempat kontak-kontak via surat sekitar setahun. “Ibu juga pernah kirim uang sejuta hasil bayaran menjadi pembantu rumah tangga di Arab,” terang Syaiful.

Setelah itu, tidak ada kontak lagi. Ibunya juga sudah tidak pernah berkirim uang dan membalas surat-surat yang dikirim empat anaknya lewat kantor pos. Karena lama tak bisa komunikasi, anak-anaknya sudah menganggap ibunya meninggal. “Karena sudah putus kontak dan tidak bisa dihubungi lagi. Kami sempat menyimpulkan ibu sudah meninggal di Arab Saudi, tempatnya bekerja,” lanjutnya. 

Bahkan, sebelum ayahnya meninggal, keluarga sempat melakukan selamatan untuk Kiptiyah. Keluarga berkirim doa untuk Kiptiyah yang dianggap sudah meninggal itu. “Kami sempat tahlilan,” kata Syaiful di samping ibunya, kemarin.

Syaiful dan adik-adiknya kini girang bukan kepalang. Mereka benar-benar tak mengira bisa kembali bertemu ibunya. “Saya akan merawat ibu yang sempat kami anggap sudah meninggal ini. Saya seperti menemukan emas segunung setelah ibu bisa pulang kembali,” kata Syaiful.

Kiptiyah kini dibawa ke rumah Syaiful Hadi di Dusun Krajan RT 001/RW 002, Desa/ Kecamatan Tempurejo. Keluarga sepakat akan merawat Kiptiyah di sana.

Kisah ditemukannya Kiptiyah ini sebenarnya tak sengaja. Ketika itu, ada TKW asal Madura yang bertemu dengan Kiptiyah di rumah majikannya yang sedang mempunyai hajat. Setelah saling kenal, mereka saling cerita. Kiptiyah pun banyak menceritakan kisahnya dan dari mana berasal. 

Dari situlah, akhirnya TKW itu berusaha mempertemukan Kiptiyah dengan keluarganya. Lewat media sosial, dia berusaha mengabarkan tentang Kiptiyah ke tanah air. Hingga akhirnya ada yang mengabarkan keberadaan Kiptiyah ini kepada keluarganya. 

Setelah ada komunikasi, pihak keluarga dibantu banyak pihak akhirnya mengupayakan kepulangan Kiptiyah. Selasa kemarin, mimpi anak-anaknya agar kembali bisa bertemu dengan ibunya pun menjadi kenyataan. 

(jr/jum/ras/das/JPR)

Source link