Supriyadi adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Lelaki beralamat di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu ditangkap tim Satpol PP saat berkeliaran di jalanan minggu lalu. Saat dinaikkan ke kendaraan satpol, lelaki itu tak menunjukkan tanda-tanda kegarangan. Tenang-tenang saja.

Tapi, situasi berubah saat para ODGJ itu diturunkan dari kendaraan pengangkut. Di halaman kantor satpol itu, Supriyadi justru mengamuk. Memukuli teman sesama ODGJ yang juga ikut terjaring.

“Saat kami lerai, malah di ngamuk. Gelas-gelas kami dibanting. Meja kaca kami pun pecah akibat ulahnya,” cerita Nur Khamid, kabid Trantib Satpol PP Kota Kediri.

Memang, salah satu tugas mereka adalah ‘memburu’ para ODGJ yang berkeliaran. Tapi, patut dicatat, upaya Satpol PP ini tak sekadar menghilangkan pemandangan tak sedak para orang gila itu dari jalanan. Mereka punya program penanganan. Termasuk upaya penyembuhan dan pengembalian kepada keluarga.

“Februari lalu kami baru saja menjemput empat orang ODGJ yang baru mengalami perawatan di RS Jiwa Lawang, Malang,” terang Nur Khamid.

Menurut Nur Khamid, upaya yang mereka jalankan itu memang tak mudah. Kesulitan bahkan sudah harus mereka hadapi sejak awal. Saat menerima laporan adanya orang gila yang berkeliaran, tantangan sudah menghadang. Yaitu bagaimana agar mereka bisa menangkap. Atau membujuk sang ODGJ agar mau ikut bersama petugas.

“Ya namanya saja orang gila Mas. Sudah biasa bila mereka tidak terkontrol saat kami ajak ikut ke kantor,” terang Nur Khamid.

Lelaki ini ingat bagaimana tim mereka mulai serius mengurusi ODGJ ini. Saat itu 2016. Ada laporan tentang ODGJ yang suka bikin onar di sekitar GOR Jayabaya. Di tempat para PKL berjualan.

Sholikin, nama ODGJ asal Desa Kaliboto, Tarokan, Kabupaten Kediri itu, sangat berbahaya kala mengamuk. Menyerang warga dengan menggunakan pisau. Nah, saat itu seorang PKL jadi korbannya. Terkena sabetan pisau Sholikin.

Menangkap ODGJ mengamuk menggunakan pisau bukan hal gampang. “Untungnya kami juga dibekali bela diri. Kami bisa lumpuhkan orang itu tanpa ada anggota yang terkena sabetannya,” terang pria kelahiran 28 Agustus 1966.

Walaupun harus menguras pikiran, kesabaran, dan tenaga, para anggota Satpol PP menjalaninya dengan telaten. Para anggota satpol PP itu berusaha mengajak para ODGJ itu berkomunikasi. “Sulit memang. Banyak nggeladurnya (meracau, Red). Tapi masih bisa kami ajak berkomunikasi,” ujarnya.

Berhasil menenangkan dan mengangkut ODGJ ke kantor satpol bukan akhir dari pekerjaan. Yang tersulit justru melakukan pendataan. Mencari alamat keluarga ODGJ. Yang ini bisa memakan waktu berhari-hari. Selain sulit berkomunikasi dengan ODGJ, mereka pun harus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Mulai dinas sosial hingga polsek-polsek yang menerima laporan orang hilang. Mereka pun harus merawat sang orgil itu selama berhari-hari.

Upaya pertama satpol memang tak langsung membawa ODGJ itu ke rumah sakit jiwa. Tapi, lebih dulu dikembalikan ke keluarga. Walaupun tidak jarang para ODGJ itu tetap kembali berkeliaran usai dipulangkan. Bahkan, pernah ada orgil yang terazia hingga tujuh kali. Orang tersebut adalah asal Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Beberapa ODGJ yang tidak diketahui alamat aslinya tidak jarang mereka bawa ke RSJ Lawang. Setelah sebelumnya berkoordinasi dengan Dinsos. Misalnya, delapan ODGJ yang baru mereka jemput dari RSJ Lawang. Mereka dinyatakan sembuh. Boleh menjalani rawat jalan.

Ada kisah mengharukan dari upaya mereka menangani ODGJ tersebut. Seperti kisah Mbah Siami. Wanita ini tahu namanya setelah sembuh. Tapi, dia tak ingat lagi punya keluarga atau tidak. “Setelah keluar RSJ, kami tampung di barak Dinsos di Semampir itu,” terangnya.

Satu bulan berada di barak, penyakit Mbah Siami kambuh. Dia pun kabur. Beberapa saat tak ada kabar, ada informasi Mbah Siami ada di Kelurahan Banjarmelati. Sakit karena tubuhnya sudah renta. Setelah dirujuk ke RSUD Dr Iskak Tulungagung, Mbah Siami meninggal dunia.

“Kami tunggui di rumah sakit hingga meninggal. Kami makamkan juga dengan terhormat di Pemakaman Umum Semampir,” ujar pria 52 tahun ini.

Satpol PP juga dua kali mendapat ODGJ yang hamil. Setelah kondisi kesehatannya membaik, mereka dikembalikan ke keluarganya. 

(rk/fiz/die/JPR)

Source link