Kisah Rofik Anwari, Mahasiswa Jember yang Pernah Terjebak Perang Yaman

Kamis (2/4) sore pukul 16:59, handphone android Muhammad Rofik Anwari berbunyi. Sebuah pesan Whatsapp dari nomor yang tidak dikenal tiba-tiba masuk. Dari kode negaranya, +62, dia menduga pesan pada tahun 2015 itu dikirim oleh seseorang dari Indonesia. 

Pengirim pesan mengaku bernama Yusron B. Ambari, salah seorang pejabat Kementerian Luar Negeri. Keduanya sempat terlibat perkenalan singkat lewat teks Whatsapp. 

Dalam percakapan itu, Yusron juga menyampaikan tujuannya menghubungi Rofik. “Saya bersama tiga delegasi Pemerintah Indonesia lainnya tengah dalam perjalanan ke Yaman Timur.” Kurang lebih seperti itu isi salah satu pesan Yusron. 

Mereka menghubungi Rofik, lantaran dia merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wilayah Hadralmaut, Yaman. Rofik lantas menanggapi informasi kedatangan delegasi tersebut dengan menanyakan kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh para anggota PPI untuk mereka. 

Sejak 2009 silam, pemuda 31 tahun asal Desa Curahlele, Kecamatan Balung itu memang menimba ilmu di Jurusan Syariat Islam, Universitas Al-Ahgaff, Kota Tarim, Provinsi Hadralmaut. 

Saat perang saudara di Yaman meletus, statusnya merupakan mahasiswa semester tua yang tinggal menyelesaikan tugas akhir saja, lantas lulus. Namun nasib berkehendak lain. Saat itu perang saudara antara pemberontak Houthi dan pasukan Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi tengah berkecamuk di Ibu Kota Yaman, Sana’a. ”Jarak dari Sana’a ke Kota Tarim terpaut kurang lebih 40 kilometer. Ada ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak di Yaman,” kata Rofik, mengingat masa yang sudah lewat dua tahun itu. 

Kota Tarim sendiri relatif aman dari desingan peluru. Kendati demikian, akibat perang yang terjadi di ibukota tersebut, pasokan kebutuhan pangan terhambat. Perbankan di seluruh Yaman pun juga tutup. Akibatnya, transfer uang saku dari Indonesia ke Yaman tidak bisa masuk. 

Kedatangan empat orang delegasi yang sebelumnya menghubungi Rofik itu, bertujuan untuk mengevakuasi seluruh WNI agar bisa keluar dari Yaman. Belakangan dia mengetahui, dua orang diantara mereka merupakan delegasi khusus dari Kepolisian Republik Indonesia. 

Pada Jumat (3/4) pukul 10:57, kepada Rofik, keempat delegasi mengabarkan jika posisi mereka sudah di Salalah, Oman, negara yang bertetanggaan dengan Yaman. Diprediksi, sekitar pukul 23.00 mereka akan tiba di Kota Tarim, Hadralmaut. “Tapi hingga lewat 23.00 hari itu, mereka belum tiba. Bahkan nomor yang sebelumnya mereka pakai berkomunikasi dengan saya tidak aktif. Teman-teman PPI sempat cemas. Apa kira-kira mereka akan menjadi tim penyelamat yang perlu diselamatkan,” ujarnya penuh tanya. 

Barulah menjelang subuh, mereka mengkonfirmasi Rofik dan anggota PPI lainnya jika sudah berposisi di dekat Kota Tarim. Setelah kedua belah pihak bertemu (delegasi dan perwakilan PPI), terjadi kesepakatan bahwa keduanya akan bekerja sama untuk secepat mungkin mensterilkan seluruh Yaman, terutama Hadralmaut, dari WNI. “Hadralmaut diambil sebagai basecamp lantaran kota ini relatif aman dari terpapar perang. Dan, mayoritan WNI bermukim di sini,” jelas Rofik. 

Dalam hal ini, tim dari PPI dilibatkan untuk mendata sisa-sisa WNI yang masih terjebak. Setiap hari selama 24 kali, Rofik bersama kawan-kawan PPI lain keluar masuk permukiman untuk mencari orang Indonesia guna dipulangkan. 

Para WNI yang sudah terdata lantas direlokasi ke Oman, negara sebelah timur Yaman, melalui jalur darat. Rofik menyebut, pesawat tidak bisa beroperasi lantaran perizinan udara selama perang berada di bawah otoritas Arab Saudi. “Karena Saudi yang menjadi pimpinan koalisi negara-negara yang menggempur Houthi,” ujarnya. 

Dari Oman lantas para WNI yang berhasil dibawa keluar dari Yaman diterbangkan menggunakan pesawat menuju Indonesia. Sementara itu, para relawan masih tetap bertahan hingga dipastikan tidak ada satu pun WNI yang tersisa di Yaman. 

Upaya evakuasi itu berakhir hingga 15 hari sejak awal perang. Setelah itu, Rofik bersama seluruh relawan bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia. 

Di hari-hari akhir keberadaannya di Yaman itu, uang sakunya tinggal 16 ribu real (kurang lebih Rp 800 ribu). Beruntung, semua kebutuhan akomodasi dan tiket pesawat ditanggung oleh Pemerintah RI. 

Rofik yang kala itu memasuki semester 11 masa studinya di Jurusan Syariat Islam Universitas Al Ahgaff mendapat kompensasi dari pihak universitas untuk menuntaskan tugas akhirnya di Indonesia. Disepakati, ujian tugas akhir dilakukan pada salah satu pesantren di Gresik. 

Sehingga, saat menginjakkan kakinya di Tanah Air, dia tidak langsung pulang menemui keluarganya. Rofik masih harus merampungkan dulu tugas akhirnya, sebelum kemudian pulang ke rumah. 

(jr/was/das/JPR)

Source link