Klungkung Krisis Air Bersih, PMI Turun Tangan – Bali Express

Menurut seorang warga, Zainal, 40, ia bersama warga di Kampung Lebah sudah empat hari kesulitan air bersih. Sehingga membuat aktifitasnya terganggu. “Dibilang terganggu ya sih, sudah empat hari airnya tidak mengalir sama sekali,” ujarnya.

Ia pun mengaku bersyukur akhirnya mendapatkan bantuan air bersih dari PMI Klungkung. Sehingga ia bersama warga lainnya langsung menampung air menggunakan tendon. Selanjutnya diletakkan di Masjid setempat. “Saat air datang kami langsung umumkan kepada warga untuk menampung air dengan galon atau ember. Sisanya kami tamping di dalam tandon diletakkan di Masjid,” papar pria yang juga Keamanan Kampung Lebah tersebut.

Petugas PMI Klungkung, Sutrisno menjelaskan, pendistribusian air bersih diatur oleh PDAM Klungkung. Sedangkan pihaknya (PMI Klungkung Red-), Dinas PU dan Damkar Klungkung membantu untuk pendistribusian. Ke berbagai titik yang warganya kesulitan air bersih pasca erupsi Gunung Agung.

“Jadi PDAM menerima laporan dari warga mengenai titik yang kesulitan air bersih. Kemudian PDAM akan berkoordinasi dengan PMI Klungkung, Dinas PU maupun Damkar untuk mendistribusikan air bersihnya,” paparnya.

Ia menambahkan, untuk distribusi air bersih di Kampung Lebah pihaknya membawa 5000 liter air bersih. Menurutnya setiap orang tidak dibatasi untuk mengambil air, selama air bersih yang dibawa mencukupi. “Artinya sampai kebutuhan masyarakat terpenuhi,” imbuhnya. 

(bx/ras/yes/JPR)

Source link



  • Peter Papua

    INI KANDANG SINGA, KER!
    Judul yang sangat diskriminatif dan rasisme, tidak pantas dipakai untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI !!!!!

    • Whawan Realita

      Viralkan pace… S juga tra trima

  • Hokoyoku Engelberth Samuel

    Mohon Klarifikasi arti kata KER! karena sangat meresahkan kami Masyarakat Papua!!
    Sebaiknya media menggunakan Bahasa Indonesia baku yang bisa dicerna semua kalangan masyarakat. Ini Indonesia Bung!

  • Nabire Net

    Saran kami, untuk kata Ker pada berita ini bisa diganti, karena tidak semua pihak bisa menerima, walaupun sudah biasa bagi warga Malang dengan bahasa kebolak balik seperti ini, tapi hal tersebut belum tentu bisa diterima warga Papua.

    Apalagi dalam foto tersebut, Boaz menggunakan baju gladiator, seakan-akan Boaz adalah tawanan perang yang dijadikan budak melawan prajurit romawi (Esteban Vizcara) dengan baju kebesaran lengkap.

    Bagi Radar Malang, mungkin berita ini tidak diskriminatif dan sudah biasa, tapi bagi warga Papua, termasuk kami sendiri sebagai salah satu media dari Papua, berita ini rasis.

    Terima kasih