Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klungkung, I Putu Widiada mengungkapkan, pengungsi Gunung Agung di luar KRB III tetap “dilayani” logistik maupun fasilitas kesehatan, termasuk kebutuhan lainnya selama di pengungsian. “Arahan Bapak Bupati (Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta) sudah jelas. Tetap melayani pengungsi dengan baik. Pemkab tidak pernah memaksa pengungsi untuk pulang,” ujar Widiada saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (7/11) kemarin. “Kalau masih merasa takut atau trauma, pemkab tidak memaksa pulang,” sambungnya. Widiada merinci, jumlah pengungsi yang masih bertahan di Klungkung sebanyak 10.335 orang. Dari jumlah itu, tercatat sebanyak 1.159 orang berasal dari non KRB. 

Bagaimana dengan stok logistik? Pejabat berkacamata ini menegaskan bahwa hingga kemarin, stok logistik untuk pengungsi di Klungkung masih aman. Apalgai jumlah pengungsi terus mengalami penurunan. Di sisi lain, bantuan logistik dari donatur masih terus ada. Selain logistik, uang bantuan donatur juga masih tersedia. Saldo rekening Klungkung Peduli Bencana Gunung Agung tercatat sebesar Rp 194.443.427. “BUMN peduli siap membantu kebutuhan pengungsi,” lanjut pejabat asal Tabanan, itu. 

Sementara itu, terkait status Gunung Agung yang masih berada pada level III (Siaga), Kapolres Karangasem, I Wayan Gede Ardana menegaskan bahwa pihaknya melarang aktivitas warga pada daerah yang masuk zona rawan. Sebagaimana rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung, ditambah perluasan sektoral sejauh 7,5 kilometer.  Ardana pun menyayangkan ada pihak-pihak yang nekat mendaki Gunung Agung di saat gunung tertinggi di Bali itu masih status Siaga. “Satgas Penanggulngan Erupsi Gunung Agung dan pihak Polres Karangasem masih berjaga di setiap pos portal wilayah KRB III,” terang kapolres asal Selat, Karangasem, itu. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah masyarakat masuk dan melakukan aktivitas di zona bahaya, serta menekan jatuhnya korban jiwa jika Gunung Agung erupsi. 

(bx/wan/aim/yes/JPR)

Source link