Kompetisi Desain Mural Nasional Diikuti Puluhan Peserta – Radar Jember

“Total jumlah peserta ada 85 orang, mereka berasal dari empat provinsi,” kata Arief Tjahjono, Kepala Disparbud Jember melalui Kabid Kebudayaan Susmiadi, kemarin. 

Peserta ini antara lain dari Jogjakarta, Jawa Tengah, Bali dan Jawa Timur. Mereka khusus datang ke Watu Ulo untuk mengikuti  Kompetisi Desain Mural Nasional 2017.

Mereka beradu ide dan teknik dalam lomba desain mural yang nantinya akan diaplikasikan di tembok yang ada di Jember. Kegiatan lomba ini sendiri diberikan waktu tiga jam bagi peserta untuk menyelesaikan lomba yakni mulai pukul 13.30-16.30 WIB. Itu sudah dengan harus finishing.

“Untuk temanya sendiri sebenarnya bebas. Namun akan lebih bagus yang mengambil tema tentang Jember. Menurut Susmiadi, pihaknya siap memberikan kejutan untuk para pemenang. “Dimana untuk juara 1-3 dan 10 juara favorit, nantinya akan mendapatkan buku dari Mikke Susanto, kurator seni Istana Presiden yang kebetulan menjadi juri,” tuturnya. Selain Mikke, juga ada Dwi Susanto yang menjadi juri. Meskipun sedang ada di Malaysia, namun siap untuk memberikan penilaian kepada peserta melalui TI.

Mike Susanto, selaku dewan juri kemarin mengatakan ada tiga kriteria untuk lomba mural ini yang akan dinilai. “Yang pertama ide konten dan isi. Terutama terkait dengan kebudayaan dan segala aspek tentang Jember,” tuturnya. 

Yang kedua gaya visual, yakni mural harus bisa dan mudah dimengerti masyarakat. Termasuk jika teks harus mendukung sisi visual. “Ketiga teknik melukisnya sendiri. Kepandaian membuat komposisi dan warna tidak asal,” tegasnya. 

Jika memang bisa memenuhi kriteria tersebut maka akan menjadi pemenang dalam lomba kemarin. Pihaknya pun mengapresiasi kepercayaan untuk juara yang nantinya akan mengaplikasikan karyanya di dinding sejumlah sudut kota Jember.

Mikke yang asli Kencong ini mengatakan potensi Jember sebenarnya luar biasa. “Bukan hanya seni rupa namun juga seni pertunjukan dan satra di tingkat nasional dan internasional,” jelasnya. Salah satunya ada Nirwan Dewanto yang menjadi kritikus sastra nomer satu di Indonesia yang juga berasal dari Jember. 

Oleh karena itu, kegiatan kemarin cukup bagus sehingga kedepan akan memunculkan bakat baru di dunia seni nasional dan internasional. Pihaknya berharap kedepan kegiatan serupa sering digalakkan. “Sehingga Jember tidak hanya terkenal dengan JFC saja, tetapi juga seni-seni yang lainnya,” tuturnya.

Sementara Eko Suwargono, Ketua Dewan Kesenian Jember (DKJ) menyambut baik kegiatan itu. Apalagi, juga ada sejumlah pelukis mural nasional yang hadir di Jember, sehingga kompetisinya sangat berkualitas. “Luar biasa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan,” tuturnya. Karena ini memberikan ruang bagi seniman dan budayawan sehingga bisa terwadahi aspirasinya. Pihaknya berharap di Jember akan lahir pelukis mural bertaraf Nasional dan Internasional. 

Bukan hanya lomba mural, masyarakat kemarin juga disuguhi dengan pameran dan bazar produk dan kuliner lokal. Kegiatan ini menghadirkan berbagai jenis produksi masyarakat lokal Jember. Mulai makanan khas Jember, kerajinan manik-manik, batik dan lainnya. Masyarakat juga dihibur dengan kesenian jaranan campursari dari Dewan Kesenian Jember hingga Karawitan Dalungnesia yang membuat acara semakin meriah.

Selain itu, di malam hari juga dihadirkan berbagai seni budaya dalam pagelaran seni budaya pandhalungan ini. Diantaranya ada jaranan Turonggo Yakso, musik patrol Gandrung Sanggar Spandalu serta tari Jember baru Jember Bersatu dari Sanggar Kartika Budaya. Yang menarik diakhir acara penutupan ini juga ada penampilan reog Singo Budoyo dan Gandrung Campursari serta ludruk dari Dewan Kesenian Jember yang memeriahkan. Sehingga benar-benar acara yang menyajikan dan melestarikan budaya lokal.

(jr/ram/das/JPR)

Source link