Komunitas Batosai, Pemuda-pemuda yang Bangkit Membangun Desanya – Radar Jember

Dusun Sumber Ayem adalah salah satu dusun yang ada di Desa Sumbergading, Sumberwringin. Dimana mayoritas kondisi geografisnya ada di dataran tinggi. Dusun ini ada di jalan menuju Gunung Ijen. Kedalaman sumber mata air otomatis sangat dalam. Karena itu, tidak sedikit masyarakat yang melakukan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di sungai.

Namun hal itu menjadi berbeda setelah adanya gerakan dari Batosai. Yakni kumpulan anak muda desa, yang memiliki misi memajukan daerahnya. Merekalah yang menginisiasi adanya air dari pinanisasi. Sehingga masyarakat mendapatkan air bersih yang gampang, dan murah. 

Dodik Apriyanto Hidayat adalah pemuda yang merintis Komunitas Batosai. Komunitas ini berdiri pada 2008 lalu. Berawal dari keinginan pemuda untuk mengumpulkan para pemuda di dusun tersebut. Tujuannya agar para pemuda yang menjadi generasi penerus bisa ikut memikirkan pembangunan. “Dulunya dusun kami terkenal dengan preman, karena itu kami ingin mengumpulkan pemudanya dan merubah ke arah yang positif,” ujarnya.

Dari perkumpulan itu, akhirnya ada kegiatan pengajian, membuat grup hadrah dan beberapa kegiatan lainnya. Dalam perkembangannya, tepatnya pada 2013 muncul inisiatif untuk membuat saluran air yang mudah. Akhirnya saat itu, para pemuda desa membuat pipanisiasi swadaya. 

Kebetulan ada sumber mata air yang besar di Dusun Sumber Gading, Desa Rejo Agung. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari Dusun Sumber Ayem. Kebetulan saat itu, masyarakat membuat pembangunan swadaya. “Kebetulan ada donatur saat itu dari anggota DPR RI Dapil III, akhirnya kami membangun dengan swadaya dan dalam waktu tiga bulan jadi,” terangnya.

Bapak dua anak itu menuturkan, warga selama ini banyak yang memanfaatkan sungai. Dan jika ada yang menggali mata air, pastinya sangat dalam, bisa mencapai kedalaman 20 meter lebih. Karena itu, masyarakat sangat butuh air dengan pipanisasi. 

Di awal pembangunan, hanya puluhan warga yang menerima aliran itu, namun kini berkembang menjadi ratusan. Warga yang sebelumnya ke sungai, akhirnya membuat kamar mandi dan WC di rumah mereka. Sebab ketersediaan air terpenuhi.

Untuk biaya perawatan, setiap rumah yang menikmati air hanya dipungut Rp 5 ribu per-bulan. Hal itulah yang membuat warga sangat antusias dengan program pipanisasi tersebut. Sehingga baik kalangan miskin sampai kalangan mampu, bisa menikmati air murah. “Bahkan dari biaya perawatan itu, sebagian ada yang dipakai untuk kegiatan sosial,” ujarnya.

Total ada satu tandon air induk dan dua tandon air sambungan. Dari tiga tandon ini, sudah ratusan warga yang menikmati. Hanya saja, dari 2013 sampai 2017, sudah ada tandon yang tidak maksimal. Seperti tandon utama, sudah bocor. “Rencananya kami mau membuat tandon baru, namun masih belum ada biaya,” pungkasnya.

Dodik menambahkan, anggota Batosai sendiri terdiri daru ratusan pemuda. Dirinya begerak bersama adiknya yang bernama Masdidik. Nama Batosai sendiri diambil dari dusun setempat yang terkenal dengan banyaknya preman. Dan dahulu, sering terjadi pertikaian namun saat pemuda dusun itu rukun dan guyub. 

(jr/hud/wah/das/JPR)

Source link