Konsumsi Bahan Bakar Khusus Naik 20 Persen Per Bulan – Radar Surabaya

“Salah satu faktor yang menjadi pendorong peningkatan konsumsi BBK itu karena Program Pertamina Lucky Swipe. Selain menjadi ajang promo dan sosialisasi produk, program ini juga kami tujukan untuk mendorong masyarakat agar meninggalkan bahan bakar bersubsidi,” jelas General Manager Pertamina MOR V Ibnu Chouldum di sela-sela pengundian Program Pertamina Lucky Swipe di Kantor Pertamina Jagir, Rabu (17/1).

Lebih dari itu, Ibu mengatakan, dengan adanya program tersebut diharapkan semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan selektif, khususnya dalam memilih bahan bakar yang tepat bagi kendaraan. “Memilih BBM, misalnya. Masyarakat harus tahu bahwa memilih BBM yang benar tentunya yang memiliki octane number tinggi, seperti Pertalite maupun Pertamax Series,” imbuhnya.

Ibnu menilai, seharusnya kenaikan konsumsi BBK bisa lebih tinggi dari rata-rata 20 persen tersebut. Kendati demikian, ia mengaku cukup puas dengan pencapaian itu.

“Idealnya lebih, tapi bisa mencapai target 20 persen itu sudah bagus. Karena meningkatkan konsumsi BBK bukan perkara yang mudah,” ujarnya.

Dari rata-rata kenaikan 20 persen itu, lanjut dia, kontribusi terbesar disumbang oleh Dexlite yang persentase kenaikannya mencapai 57 persen, naik dari 3.835 Kilo Liter (KL) menjadi 6.014 KL. Peringkat kedua diikuti oleh Pertalite, naik dari 191.792 KL menjadi 226.408 KL atau setara dengan 18 persen.

“Kenaikan juga disumbang oleh BBK jenis Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Meskipun tidak begitu signifikan yakni mencapai 5-10 persen,” tutur Ibnu.

Terkait dengan target kinerja di tahun 2018, Ibnu mengatakan pihaknya menargetkan adanya peningkatan rata-rata konsumsi bahan bakar yang mencapai 20 persen.

“Target tentu harus lebih tinggi dari tahun 2017. Karena di tahun lalu, untuk Pertalite saja berhasil mengalami kenaikan konsumsi hingga 1.000 persen dari rata-rata konsumsi bahan bakar di Pertamina MOR V yang sebesar 2.111.028 KL,” paparnya.

Berbanding terbalik dengan BBK, penurunan konsumsi terjadi pada bahan bakar jenis Premium. Ibnu mengatakan, Premium mengalami penurunan konsumsi sekitar 10-11 persen.

“Terhitung pada akhir 2017 lalu, khususnya sejak adanya program Pertamina Lucky Swipe, konsumsi Premium turun rata-rata dari 197.202 KL menjadi 175.919 KL per bulannya,” jelas dia. (mif/hen)

(sb/mif/jek/JPR)