Kontroversi Bintaos, Pembuat Patung Nisan Raksasa di Probolinggo – Radar Bromo

TUAI POLEMIK: Nisan raksasa yang dibangun Bintaos di lahan miliknya di Desa Ganting Wetan, Kecamatan Maron.
(Istimewa)

BANGUNAN batu nisan raksasa yang berdiri di tengah sawah Desa Ganting Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo menimbulkan polemik. Batu nisan raksasa yang dibangun oleh Nur Slamet alias Bintaos itu kini tengah dibahas Bakorpakem Kabupaten Probolinggo. Bukan hanya kali karya Bintaos menuai reaksi.

————–

Bangunan batu nisan raksasa itu dari jauh sudah tampak. Wajar, tingginya hampir 11 meter. Siapapun yang melintas, pasti pandangannya mengarah pada bangunan tersebut. Tak hanya bentuknya yang menuai reaksi, tulisan yang mengiringi bangunan itu juga memantik perhatian masyarakat.

Tulisan itu berada di sisi timur batu nisan raksasa. Tepatnya di tepi jalan desa. Bintaos mendirikan pintu masuk dan dinding yang bertuliskan “Inilah Makam Persiapan Bintaos”. Dinding itu juga diberikan tulisan “Seorang penuh dosa lahir 9 Juni 1976 dan meninggal 4-8-2085 (perkiraan)”.

Jawa Pos Radar Bromo kemudian berkunjung ke rumah pria yang kara patungnya dulu juga menuai polemik. Memakai baju batik, Bintaos tampak ramah. Ia yang mengetahui tujuan maksud kedatangan media ini, langsung mempersilahkan masuk dan menceritakan alasannya membangun batu nisan raksasa.

“Iya saya yang membuat batu nisan ukuran besar itu. Tingginya sampai 11 meter itu,” kata Bintaos. Ia menjelaskan, dirinya membangun batu nisan raksasa dengan tujuan untuk mengingatkan mati pada dirinya. Selain itu, dirinya memilih batu nisan ukuran besar, supaya dapat dikenal dan diketahui oleh anak cucunya kelak.

Sebab, jika batu nisan ukuran kecil, kelak saat sudah berumur 1-2 tahun, akan hilang dan mudah dilupakan anak cucunya. “Batu nisan itu saya bangun memang saya siapkan untuk pemakaman saya. Kenapa saya siapkan sekarang? Karena saya khawatir nanti anak cucu saya tidak mampu menyiapkan seperti sekarang ini,” terang bapak dua anak itu.

Bintaos mengaku, apa yang dilakukan juga dilandasi jiwa seninya. Selama itu tidak menyalahi aturan agama, akan dilakukannya. Di rumahnya sendiri, banyak patung berbagai bentuk yang merupakan hasil kreativitasnya. Termasuk bangunan batu nisan yang baru dibuatnya itu.

”Saya tulis lahir dan tahun mati saya, itu perkiraan saya. Karena saya berharap dan berdoa bisa hidup sampai usia 100 tahun lebih. Tapi kalau masalah mati hidup sesesorang tidak ada yang tahu,” katanya.

Saat disinggung soal biaya pembuatan batu nisan raksasa itu? Bintaos mengaku menghabiskan biaya sekitar Rp 150 juta. Sebab, bangunan batu nisan raksasa itu banyak menggunakan besi beton. “Saya sudah cari di semua informasi, batu nisan ini memang tertinggi. Tidak ada batu nisan sebesar ini di mana saja,” terangnya.

Bahkan dikatakan Bintaos, nantinya akan dibangun undak-undak di empat sisi sekitar batu nisan itu. Kemudian di atas undak-undak itu akan diletakkan patung yang tengah posisi berdoa. Dengan harapan, kelak banyak yang mendoakan dirinya saat sudah meninggal. Terutama anak cucunya.

“Saya tidak bersedia kalau batu nisan ini dibongkar. Karena, saya bangun ini di atas lahan saya dan tidak menyalahi aturan. Kalau masalah izin, tidak ada bangun patung harus urus izin,” terangnya.

Sebagai informasi, pada 2013 lalu, Bintaos juga pernah membuat sebuah patung dewi padi setinggi 12 meter di lahan yang sama. Hingga kemudian patung tersebut dibongkar karena juga menuai protes.

(br/mas/rf/rf/JPR)

Source link