GEMBONG – Berbagai cara dilakukan para petani untuk berinovasi supaya kopi di Pati memiliki nilai jual tinggi. Seperti yang dilakukan Teguh Niken Widodo, 50, warga Desa Guwo, Kecamatan Gembong, Pati. Ia mengubah kopi robusta khas Jolong difermentasi menjadi kopi luwak.

Teguh menuturkan, mencoba mengembangkan kopi Jolong yang memiliki harga murah supaya memiliki harga lebih tinggi. Yakni dengan cara fermentasi kopi robusta dari Jolong yang tumbuh subur di lereng Pegunungan Muria itu menjadi kopi luwak. Kopi itu difermentasi dengan cita rasa khas dan kualitas tidak kalah dengan kopi luwak yang harganya tinggi.

Ia menjelaskan, pengembangan kopi robusta menjadi kopi luwak dengan berbekal bakteri Cellulomonas. Bakteri itu untuk menghilangkan racun dalam kopi. Prosesnya sekitar 2×24 jam. Lalu tahap kedua memasukkan bakteri lactobacillus ke dalam kopi selama 24 jam.

“Berdasarkan riset yang saya lakukan sebelum percobaan, hasilnya bakteri kopi dalam kopi sudah difermentasi tahan terhadap panas hingg 170 derajat celcius. Karena itu, bakteri baik pada kopi tidak hilang saat disangrai. Kopi fermentasi buatan saya memiliki rasa kecut khas Yoghurt. Berbeda dengan kopi robusta biasanya yang memiliki rasa pahit pekat,” ungkapnya.

Menurutnya, aroma kopi hasil dari fermentasi itu mendekati cita rasa kopi Luwak, karena ada lactobacillus. Proses dan hasilnya sama dengan kopi Luwak. Hanya saja, kopi Luwak memanfaatkan perut luwak untuk proses fermentasi.

“Kopi fermentasi aman bagi lambung karena terjadi pembongkaran lactose menjadi asam laktat. Kopi fermentasi itu laku di pasaran. Dengan brand yang saya miliki, 100 gram dibanderol dengan harga Rp 20 ribu,” ucapnya.

(ks/put/him/top/JPR)

Source link