Korban Banjir di Kalianyar – Radar Bromo

Banjir yang tak kunjung surut, benar-benar membuat warga Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, tersiksa. Jangankan sekedar makan dengan lauk yang nyaman, untuk buang air besar (BAB) pun mereka kesulitan.

——————-

Sepasang mata Anang, bengkak. Bukan karena terlalu banyak menangis. Sudah beberapa hari terakhir, tidurnya tak nyenyak. Maklum, rumahnya kebanjiran sepekan terakhir.

Karena banjir itu, Anang harus selalu siaga. Takut ada banjir susulan. Dia juga harus menjaga barang-barang di rumahnya agar tetap aman. Alhasil, Anang pun tidak bisa tidur lelap.

Saat koran ini datang ke rumahnya, Anang sedang mengemas sejumlah barang. Dia kemudian menaikkan barang itu ke sepeda pancal miliknya. Anang lantas keluar dari rumahnya, mengantar anak dan istrinya menyusuri gang rumahnya sambail menuntun sepeda pancal itu.

Cukup jauh. Sekitar 100 meter panjangnya. Selanjutnya, ia pun menitipkan istri dan anaknya, kepada tukang becak yang sudah menanti mereka. Pada tukang becak itu, Anang minta mengantar istri dan anaknya ke rumahnya di Manaruwi, Kecamatan Bangil.

“Saya mau ngungsi. Sudah tidak nyaman di sini. Beberapa hari ini, banjir tidak kunjung surut,” aku lelaki yang juga perangkat Desa Manaruwi, Kecamatan Bangil itu.

Anang mengaku, banjir yang melanda kampung kelahiran istrinya itu, sudah berlangsung sepekan terakhir. Sejak itupula, banjir tak surut sepenuhnya. Bahkan,cenderung meninggi, ketika hujan datang lagi.

Saat ia meninggalkan rumahnya Jumat pagi (22/12) misalnya, banjir masih setinggi dada. Itu yang menggenangi jalan kampungnya. Sementara, banjir yang masuk rumahnya, masih setinggi paha.

Kondisi itu jelas  membuat ia dan istrinya, Musliha benar-benar tak nyaman. Apalagi, mereka punya anak yang masih balita, Aisyah. Jika bertahan di tempat itu, Anang khawatir kesehatan anaknya akan terganggu.

“Makanya untuk sementara ini, kami memilih mengungsi dulu. Kalau sudah surut, kami balik ke sini (Kalianyar, Red.),” ungkap dia.

Karena banjir itu pula, semua aktivitasnya jadi tak nyaman. Untuk tidur misalnya. Ia terpaksa tidur di atas motornya.

Kasur yang dimiliki basah. Kalaupun ada, harus disusun tinggi. Supaya, istri dan anaknya bisa tidur nyaman dan tidak sampai kebasahan.

Hal inilah, yang membuat Anang tak nyenyak tidur. Sesekali saat malam, Anang terus terjaga. Apalagi saat hujan turun lagi, dia harus siaga. Khawatir, air makin tinggi saat malam hari.

“Kami harus jaga-jaga terus. Jangan sampai saat tidur, air sudah tinggi,” sambungnya.

Ketidaknyamanan serupa, dirasakan Jumadi Wijaya, 33, warga Kalianyar, Kecamatan Bangil. Ia mengaku, banjir membuat ia dan keluarganya tak nyaman menikmati hari-hari mereka. Mereka jadi tidak bisa beraktivitas normal.

Untuk makan misalnya, biasanya istrinya belanja di pasar terdekat. Namun, karena banjir, hal itu tak lagi bisa dilakukan. Apalagi, pasar ikan di Kalianyar tutup sejak banjir datang.

Akhirnya, ia pun terpaksa makan seadanya. Tidak bisa lagi makan ikan. Beberapa hari terakhir, Jumadi dan keluarganya hanya makan nasi dengan mi instan.

“Kalau masak nasi dan mi masih bisa. Karena kompor dinaikkan ke meja. Tapi, kalau masak ikan, itu yang tidak bisa. Sebab, tidak ada ikan yang bisa dimasak. Terpaksa, kami hanya makan nasi dan mi instan beberapa hari terakhir ini,” tukasnya.

Masalah yang dirasakan, bukan hanya itu. Gara-gara banjir pula, perabotan dan alat-alat elektronik miliknya banyak yang rusak. “Televisi dan kulkas semuanya rusak kena banjir,” urainya.

Derita warga bukan hanya sampai di situ. Menurut Sujak, warga Kalianyar lainnya, masalah muncul pada kondisi kesehatan. Banjir membuat kaki mereka gatal-gatal.

“Sudah beberapa hari ini kaki kena banjir. Kami merasa gatal-gatal di kaki,” bebernya.

Parahnya, ketika sakit perut atau ingin buang air besar (BAB), tidak ada toilet yang bisa dipakai. Maklum, air banjir juga merendam WC miliknya.

Hal ini membuat ia dan keluarga kuwalahan. Salah satu jalan yang bisa diambil, dengan menahan buang air besar. Namun, kalau sudah tak sanggup, terpaksa buang air besar seadanya.

Agar tidak mencemari rumah, ia dan keluarganya pun membekali kresek. Kresek itulah, yang digunakan untuk menampung kotorannya.

“Masalahnya kalau ingin buang air besar. WC-nya kan ngecembung. Jadi, tidak bisa digunakan. Solusinya, ya pakai kresek kalau sudah tidak kuat nahan,” ulas lelaki yang berprofesi sebagai guru ini.

Harapan Suka dan warga yang lain, banjir bisa segera surut. Sehingga, masalah demi masalah yang dihadapi warga tak lagi mendera.

Source link