Tradisi “perang kayu” itu menyedot perhatian para wisatawan lokal dan asing. Mereka tidak ingin melewatkan warisan budaya yang rutin

digelar turun temurun itu untuk mengenang perisitiwa kemenangan Kerajaan Mengwi saat perang melawan Kerajaan Blambangan, Banyuwangi itu.

Makotek kemarin diikuti 1.113 kepala keluarga (KK) dari 12 banjar yang ada di Desa Menggu. Proses makotek diawali dengan persembahyangan di pura setempat.

Kemudian krama mengelilingi desa dengan membawa kayu khusus yang disebut kayu pulet sepanjang tiga meter. Selanjutnya berkumpul pada satu titik desa.

“Penyelenggaraan tradisi makotek ini sudah setelah kami mendapat pawisik. Dari pawisik itu pula kenapa kemudian tradisi makotek diselenggarakan hanya pada saat Kuningan,” tutur Bendesa Asat Munggu I Made Rai Sujana.

Dipilih hari raya Kuningan karena sebelum menyerang Kerajaan Blambangan, prajurit dan raja dari Kerajaan Mengwisaat itu melakukan semadi.

Waktu semadi itu bertepatan dengan Kuningan. “Tradisi makotek akan terus kami lestarikan sampai kapanpun,” imbuhnya.

Masyarakat meyakini akan terjadi musibah bila tidak melaksanakan tradisi ini. Disampingi itu juga, masyarakat meyakini tradisi makotek juga bermakna mempererat hubungan antar sesama warga khususnya di Desa Adat Munggu.

Disebut makotek karena mengikuti bunyi kayu-kayu yang saling bertabrakan ketika kayu-kayu tersebut disatukan menjadi bentuk gunungan.

Konon pernah suatu ketika krama Desa Adat Munggu tak menyelenggarakan tradisi ini karena dilarang pemerintah kolonial Belanda.

Tiba-tiba muncul penyakit sukar disembuhkan yang menimpa warga, sampai kemudian tradisi ini dihidupkan lagi dan penyakit itu hilang pula dengan sendirinya.

(rb/san/mus/mus/JPR)

Source link