Krisis Air Bersih, 42 Desa di Sampang Terdampak Kekeringan – Radar Madura

Di Kecamatan Kota kekeringan terjadi di Desa Panggung dan Pengelen. Kemudian lima desa di Kecamatan Robatal. Masing-masing enam desa di Kecamatan Banyuates dan Karang Penang. Lalu, sebelas desa di Kecamatan Sokobanah, empat desa di Kecamatan Ketapang, dan delapan desa lainnya.

Kepala BPBD Sampang Anang Djoenaidi menyampaikan, setiap tahun selama musim kemarau sumur-sumur milik warga kering.Akibatnya, warga mengalami krisis air bersih. Kemarau juga menyebabkan pepohonan mati dan banyak lahan tandus.

Kondisi cuaca yang panas sangat berpotensi terjadinya bencana kebakaran. ”Kami minta masyarakat hemat penggunaan air. Kemudian perbaiki sumber air dan bila perlu tanam pohon. Juga, waspadai tingginya potensi kebakaran,” terangnya Sabtu (16/6).

Dia menjelaskan, untuk menghadapi bencana kekeringan di musim kemarau tahun ini, instansinya sudah mendata dan menginventarisasi semua wilayah terdampak kekeringan. Informasi dari Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) Surabaya, puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan Agustus hingga September 2018. ”Warga harus selalu waspada. Jika butuh air bersih segera berkoordinasi dengan Kades, kemudian ditindaklanjuti ke BPBD,” katanya.

Untuk mencegah bencana kebakaran, warga diminta selalu mengecek instalasi listrik di rumah masing-masing. Tidak menyalakan perapian untuk hewan ternak tanpa pengawasan. Tidak membuang puntung rokok sembarangan. Tidak menyalakan obat nyamuk bakar di dekat benda yang mudah terbakar dan selalu mengecek selang kompor gas di dapur.

”Anak-anak jangan sembarangan main korek api dan petasan. Jika tidak bisa mengendalikan, bisa terjadi kebakaran. Orang tua harus ekstra melakukan pengawasan terhadap anak agar tidak membuat sumber api yang bisa menyulut api,” terang Anang.

Dia meminta masyarakat jika terjadi kondisi kedaruratan bencana, baik permintaan bantuan air bersih maupun terjadi kebakaran, segera berkoordinasi dengan BPBD dan satpol PP. Saat ini, penanganan bencana kebakaran ditangani satpol PP. Kemudian, jika ada lembaga atau organisasi yang ingin memberikan bantuan air bersih kapada warga, secepatnya berkoordinasi dengan BPBD.

”Kami sudah mempunyai data lengkap wilayah mana saja yang mengalami kekeringan dan mendesak untuk dibantu. Sampai sekarang sudah ada lima desa yang mengajukan dropping air,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana meminta BPBD segera melakukan menyuplai air bersih ke semua desa yang terdampak kekeringan. Bantuan air bersih sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab, tidak semua warga bisa membeli air tangki.

Anggaran bantuan air bersih Rp 200 juta dropping dilakukan selama tiga kali per desa. ”Kalau BPBD sudah mempunyai data desa kekeringan bantuan air bersih harus merata. Jangan masih menunggu laporan dari masyarakat,” pintanya.

(mr/nal/luq/bas/JPR)