Kualitas Saja Tak Cukup – Radar Kediri

Saat krisis ekonomi menerpa 1998 lalu, terbukti usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) akan menjadi usaha yang paling bisa bertahan. Tetap terpengaruh, tetapi tidak sampai membuat ekonomi hancur.

Pentingnya pengusaha rumahan dan pengusaha kecil di sebuah daerah memang tidak bisa dipungkiri. Khususnya dalam menjaga kestabilan ekonomi. Bahkan, sebuah penelitian menyebutkan kalau sebuah negara bisa dibilang maju, jika memiliki entrepeneur minimal dua persen dari seluruh jumlah penduduk. Karena itu, wajar jika akhirnya Presiden Jokowi telah mematok jumlah wirausaha meningkat 2,5 persen di tahun ini.

Rasanya, melihat ini, sudah sepantasnya kalau usaha mikro, kecil dan menengah sebagai cikal munculnya entrepeneur harus mendapat tempat yang luas. Bahkan, kalau perlu mendapat prioritas dalam setiap program pemerintah.

Belum lama ini, Pemkab Kediri menggelar pameran UKM. Memang, baru sepuluh persen dari jumlah pengusaha kecil di Kabupaten Kediri yang mengikuti pameran. Jauh lebih banyak pihak swasta yang mengikuti. Kondisi ini diduga terkait anggaran yang terbatas.

Apapun itu, usaha pameran UKM yang berjalan tiap tahun ini sudah patut diapresiasi. Karena, dampak pameran selalu dirasakan peserta. Tak hanya dagangan yang laku, tetapi juga menjadi ajang promosi gratis bagi para pengusaha.

Bagaimana tidak, pengunjung yang datang luar biasa. Saking penuhnya, yang masuk tidak bisa keluar, yang di luar tidak bisa masuk. Sudah menyamai pekan budaya yang digelar menjelang tutup tahun. Jumlahnya mencapai puluhan ribu pengunjung tiap hari. Omzet pun bisa mencapai ratusan juta dalam pameran tersebut.

Peran serta pemerintah memang diperlukan bagi para pengusaha kecil. Khususnya meraka yang start up atau baru memulai. Ibarat anak kecil, diperlukan bimbingan dan pengawasan orang tua saat si anak masih belajar merangkak . Setidaknya biar sampai berjalan.

Ini sebuah cerita dari seorang pengusaha muda. Usianya belum genap 25 tahun. Dia berjualan suvenir. Awalnya hanya iseng. Setelah di-uplod di media sosial, ternyata peminatnya cukup banyak. Pesanan pun berdatangan. Tapi, namanya tetap tidak dikenal. Hingga akhirnya, seorang pejabat pemerintah melihat produknya. Sengaja dia memasang produknya itu halaman medsos pribadinya. Setelah itu, dibawanya si pengusaha ke setiap pameran. Luar biasa, setelah itu, peminat bertambah banyak. Kini warga di sekitar rumah si pengusaha muda itu pun merasakan dampaknya. Jadi memiliki lapangan pekerjaan. Karena, si pengusaha itu tidak sanggup mengerjakan sendiri pesanan yang terus berdatangan.

Dari kisah sederhana itu, terlihat peranan pemerintah memang tidak perlu muluk-muluk. Saat si pengusaha konsentrasi dengan kualitas produk yang dimilikinya, maka pemerintah sudah saatnya menjadi bagian dari pemasaran.

Agar pemasaran bisa lebih mudah, kemasan produk juga ikut menjadi bagian yang penting. Kemasan yang menarik inilah yang perkembangannya cukup pesat. Kini, tak ada coklat yang hanya dibungkus kertas biasa. Tetapi, sudah dikemas menggunakan kotak seperti produk coklat kelas nasional.

Bahkan, kini, bawang goreng tidak hanya dibungkus plastik. Tetapi, sudah dikemas dalam kotak mika yang menarik. Disertai dengan label yang cukup mengena.

Begitu kemasan sudah menarik, pemerintah tinggal melangkah dalam pemasaran. Membuka pameran-pameran di tingkat lokal, regional dan nasional adalah cara sederhana. Tetapi, yang pasti ada kesetaraan. Bukan UKM tertentu yang diajak, tetapi juga UKM-UKM baru lainnya.

Selanjutnya, terus gencar saat promosi di media sosial. Semua mendapat giliran untuk promosi. Cara lainnya dengan menyinergikan antara lokasi wisata dengan produk UKM. Penjualan tiket masuk juga di-bundling dengan produk UKM yang ada di Kabupaten Kediri. Khususnya kulinernya.

Jadi, wisatawan yang masuk ikut merasakan dan mengenal produk UKM unggulan yang ada di Kediri. Selain ini membuat usaha terus berjalan, produk UMM pun kian dikenal hingga luar daerah. Bukan hal sulit kan..? (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/die/die/JPR)

Source link