Kuda Lumping Menggeliat di Era Ganjar – Radar Semarang

Dengan kemasan kolosal, kesenian ini punya potensi besar menarik minat wisatawan. Buktinya pada pagelaran 1000 kuda lumping dalam Sedekah Turonggo Bhumi Pala di Lapangan Gondangwinangun, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Sabtu (25/11/2017).

Seribu kuda lumping tampil bersama. Menghadirkan pentas atraktif dalam balutan musik rancak yang mengundang siapapun untuk ikut menari bersama.

Tak kecuali Ganjar sendiri yang kemarin hadir. Ia bahkan ikut terjun ke lapangan yang becek usai diguyur hujan itu. Mengenakan kostum penari ia berjingkrak-jingkrak selama satu jam bersama ribuan pelaku seni tradisi. Tangan kirinya memegang erat kuda lumping, tangan kanannya menggenggam cambuk yang sesekali ia hantamkan ke bumi. Cetaaarrr..!

Tepuk tangan riuh dihadiahkan ribuan warga yang menyaksikan gubernur mereka menari. Ribuan kamera telepon seluler diarahkan kepada Ganjar untuk mengabadikan momen langka tersebut.

“Luwes sekali ya Pak Ganjar jogetannya juga pas sekali, baru tahu ternyata pinter ‘njathil’,” kata Sutarti,36, salah satu penonton.

“Mau njathil bareng rakyat, gubernurku pancen top tenan,” imbuh Tomo, 41, warga Temanggung lainnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar juga dinobatkan sebagai Bapak Jaran Kepang Jawa Tengah. Penobatan itu diberikan oleh para seniman Jaran Kepang atas dedikasi Ganjar terhadap kesenian itu.

Ganjar mengaku telah beberapa kali menari jathilan. Namun baru kali ini menari bersam seribuan orang. “Kalau dilihat sepertinya mudah, ternyata ora gampang. Saya asal saja mengikuti feel-nya,” kata dia.

Menurut Ganjar, seribu jaran kepang ini harus terus digelar setiap tahun. Selain untuk melestarikan tradisi juga bisa dikemas sebagai event pariwisata. Ia optimis, para turis akan suka dan tak segan ikut menari jaran kepang. “Nanti dari 1000 jaran kepan itu, 100 diberikan kepada turis. Ajak mereka menari bersama, tentu sangat menarik,” tegasnya.

Pihaknya memastikan akan mendukung hal itu. Ia tidak mau kesenian Kuda Lumping tidak diperhatikan seperti sebelum-sebelumnya. “Ini aset kebudayaan bernilai tinggi. Harus didukung dan masuk kalender wisata sebagai event budaya tahunan,” tuturnya.

Agar terwujud, maka seniman jathilan punya pekerjaan rumah dalam segi kaderisasi. Selain itu diperlukan kreasi dan inovasi terus menerus dalam segi, gerakan, dan koreografi.

“Biar tidak monoton, harus ada kreasi dan koreografi baru agar masyarakat khususnya wisatawan asing tidak bosan meskipun mengunjungi event ini setiap tahun,” pungkasnya.

Sepakbola Api

Dalam kunjungan ke Temanggung, Ganjar juga mampir ke Pondok Pesantren Karang Santri Temanggung, Sabtu (25/11/2017). Ia didaulat membuka Turnamen Sepakbola Api Kapolres Cup 2017. Tak cuma memberi sambutan, gubernur bahkan ikut merasakan menendang bola berapi itu.

Setelah diberi doa dan kakinya diolesi minyak khusus, Ganjar menginjak bola dari kelapa dengan api membara. Meski tanpa alas kaki, dengan santai Ganjar menggiring bola api layaknya bola biasa.

Bak pemain profesional, Ganjar dan Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwa berebut bola. Tepuk tangan meriah dari para penonton memberi semangat permainan sang gubernur.

“Awalnya saya merasa tidak masuk akal ya, tapi setelah didoakan Pak Kiai tadi jadi berani nendang bola. Ternyata doanya ampuh, cuma anget itu, nggak panas kok,” katanya.

Menurutnya, sepakbola api merupakan tradisi yang harus dilestarikan. Selain itu juga bisa dijadikan sebagai agenda wisata jika dikelola dengan baik. “Ini kan tidak ada ya di negara lain, jadi bisa menjadi hal menarik dan menjadi agenda wisata. Tentu akan banyak turis asing yang ingin menjajal sepakbola api ini,” ujarnya. 

(sm/amh/ida/JPR)