Thailand sejauh ini dikenal sebagai salah satu surganya pariwisata di kawasan Asia Tenggara. Di balik pamor yang dimiliki negara ini, beberapa daerah khususnya Thailand Selatan seperti Pattani, Narathiwat, Songkhla, dan Yala ternyata menyimpan potensi wisata yang tidak kalah dari objek wisata yang ada di dekat pusat pemerintahan negara Gajah Putih tersebut.

Dibandingkan beberapa kota besar seperti Pattaya, Hat Yai, dan Bangkok dalam urusan glamornya pariwisata di Thailand, Kota Pattani dan Narathiwat mungkin belum seberapa. Namun, kota ini juga menyimpan potensi yang sebetulnya tidak kalah, terutama dari sisi perjalanan historis yang dimilikinya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pattani, kota ini memiliki kemiripan dengan Banyuwangi. Secara geografis wilayahnya memiliki kawasan pesisir pantai. Kondisi infrastruktur jalan terbilang cukup bagus. Mulus dan markah jalan tergambar jelas hingga jalan kecil sekalipun.

Kebanyakan penduduk Pattani meru­pakan ras Melayu. Persebaran ras ini men­jangkau hingga Narathiwat, Yala, dan sebagian Songkhla. Mereka mayoritas beragama Islam. Saat menyusuri jalanan di Pattani, kebanyakan identitas muslim sudah tergambar jelas.

Hampir semua kaum hawa di sini meng­gunakan jilbab sebagai identitasnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang me­­lengkapi jilbab dengan memakai niqab atau cadar.

Sedangkan kaum adamnya ba­nyak menggunakan baju gamis dan peci sebagai identitas sehari-hari.Jumlah masjid pun terbilang cukup banyak di sini. Mudah men­cari masjid untuk melak­sanakan salat. Termasuk masjid besar Pattani, yakni Masjid Jamik Fathoni. Tem­pat ini menjadi sentral kegiatan peribadatan umat muslim. Tempat ini tidak pernah sepi terutama saat datangnya waktu salat. Pen­duduk di sini sangat antusias salat berjamaah hingga barisan saf salat bisa penuh hingga ke be­lakang.

Selain mudah dijangkau, masjid ini juga memiliki pesona dan keindahan bagi masyarakat se­tempat. Ada taman lengkap dengan tanaman teduh dan kolam sebagai pemanis masjid yang berada persis di bagian depannya. Kombinasi warna-warni lampu yang dipasang membuat masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah.

MASJID MODERN: Masjid Fathoni selain sebagai pusat kegiatan keagamaan di Pattani juga menjadi spot wisata dan selfie.
(RAMADA KUSUMA/RABA)

Masjid Fathoni juga menjadi arena rekreasi sekaligus salah satu spot swafoto di Pattani. Waktu pagi dan sore menjadi momen yang dipilih untuk berfoto atau bersantai di masjid ini. Anak-anak, dewasa, pria atau wanita banyak berkunjung di waktu tersebut.

Kehadiran mereka dimanfaatkan oleh pedagang street food khas Thailand yang mengais rezeki dari pengunjung di masjid ini. Deretan bendera Thailand juga terlihat menghiasi beberapa sudut masjid. ”Masjidnya bagus. Kombi­nasi lampu dan hiasannya pada kolam dan taman di depannya bisa ditiru. Masjid bisa juga diper­cantik seperti ini,” ujar Wakil Rektor IAI Ibrahimy Genteng Lukman Hakim Achmad Hariyanto.

Pesona yang dimiliki masjid ini tidak disia-siakan pendamping mahasiswa KKN/PPL IAI Ibrahimy Genteng. Rektor Khalirur Rahman dan Wakil Rektor Lukman Hakim Achmad Hariyanto silih berganti untuk mengambil kesempatan berswafoto di lokasi ini.

Bergeser dari Masjid Fathoni, rombongan berkesempatan me­ngunjungi masjid di Talok Manok yang ada di Kota Narathiwat. Butuh waktu lebih kurang satu jam dari Pattani untuk mencapai lokasi masjid yang sudah cukup berumur ini. Masjid ini berbahan material kayu.

Masyarakat setempat menge­nalnya dengan ragam sebutan, mulai Masjid Talok Manok hingga Masjid Wadi Husein. Masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1700-an. Artinya masjid ini sudah berusia lebih dari 300 tahun. Kini, masjid ini menjadi masjid tertua di Thailand.

Fondasi masjid ini terbuat dari balok kayu yang memanjang. Lebar kayu yang ada di masjid ini cukup lebar dan besar. Rata-rata berukuran 20 hingga 30 cm. Dilihat sepintas masjid ini mirip dengan bentuk Masjid Raya Demak. Gaya desainnya perpa­duan antara unsur Melayu, Cina, serta Pattani. ”Bentuknya pang­gung seperti rumah orang Melayu kebanyakan,” ujar anggota Abroad Alumni Association of Southern Border Provinces, Furqon.

TULISAN SEJARAH: Manuskrip Alquran dan kitab kuno tersimpan dengan rapi di museum di kawasan Narathiwat.

TULISAN SEJARAH: Manuskrip Alquran dan kitab kuno tersimpan dengan rapi di museum di kawasan Narathiwat.
(RAMADA KUSUMA/RABA)

Seperti halnya bangunan kuno seperti di Jawa pada masa itu. Bangunan masjid ini tidak meng­gunakan paku sebagai perekat satu bagian dengan bagian lainnya. Semua menjadi satu kukuh dan ter­hubung dengan kuat hingga seka­rang. Di beberapa sudut mas­jid ditemui sejumlah ornamen akulturasi budaya Melayu dan Pattani.

Hebatnya, meski sudah berusia ratusan tahun, masjid ini masih digunakan untuk kegiatan peri­badatan masyarakat setempat. Puas melihat masjid Talok Manok, kami kemudian bergeser ke Mu­seum Manuskrip Alquran yang hanya berjarak lebih kurang dua kilometer dari Talok Manok.

Di sini tersimpan Alquran dalam berbagai bentuk dan ukuran, mu­lai dari tulisan tangan kuno baik dari bahan kulit hingga kertas. Ada puluhan Alquran kuno yang tersimpan di sini. Usianya bahkan ada yang sudah berumur 300 hingga 500 tahun. Bahkan, ada kitab kuno yang berbahasa Jawa. ”Itu ada kitabnya pakai aksara Jawa. Bisa baca tulisannya,” ujar Furqon.

Tidak hanya Alquran, di museum ini juga menyimpan bukti pera­daban teknologi Melayu seperti alat tenun, keramik, mesin peng­giling, hingga persenjataan. Ter­masuk sebuah mimbar tua dari kayu buatan tahun 1247 Hijriah. Di sini juga menyimpan pening­galan lainnya seperti kitab klasik kedokteran, astronomi, dan cerita dakwah wayang.

Bahkan, ada juga manuskrip kompas ilmu pelayaran di laut yang ditulis pada tahun 1180 Hi­jriah. Hebatnya, kompas berbahasa Jawa itu ditulis dengan huruf Arab. Dari museum, rombongan men­coba bersantai sejenak di kawasan Pantai Telok Kapo. Mengelilingi kawasan mangrove dengan perahu khas Pattani, kolek, menjadi pengisi waktu menjelang Magrib.

Perahu kolek biasa digunakan di perairan yang tenang. Di sini aneka satwa dan aneka pepohonan di area mangrove yang rindang menjadi daya tariknya. ”Kalau Telok Kapo-nya sendiri mirip de­ngan Grand Watu Dodol di Ba­nyuwangi,” ujar Lukman Hakim Ach­mad Hariyanto.

(bw/nic/rbs/JPR)

Source link