Kunjungi Radar Kudus, Tamzil Berbagi Cerita Lolos di Lubang Jarum – Radar Kudus

PASANGAN bakal calon M. Tamzil dan Hartopo (Top) anjangsana di kantor Jawa Pos Radar Kudus kemarin. Top tak datang berdua, tapi beramai-ramai. Pasukan hijau dan kuning kunir turut mendampingi. Membuat suasana kantor menjadi ramai.

Sebelum masuk ke ruang redaksi di lantai III, mereka menikmati meja kongko di lantai I dengan background mural. Setelah berbincang-bincang, Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi mengajak rombongan ke ruang redaksi.

Di sanalah perbincangan semakin cair. ”Kantor kami ini, sebelumnya jadi pusat demit Pak Tamzil, Pak Hartopo,” kata Baehaqi. Rombongan pun tertawa. ”Namun Pak Tamzil sudah dua kali datang ke sini,” lanjutnya. Tamzil yang berada di samping Baehaqi tersenyum.

Dia lantas bertanya kunjungan Tamzil ke DPP PKB di Jakarta. ”Berapa kali Pak Tamzil ke DPP PKB? Bawa jenang berapa bungkus, Pak? Saya punya fotonya lho,” goda Baehaqi. Tamzil tersipu lantas menjawab, ”orang Jakarta itu pada suka jenang, Mas Baehaqi. Cocok untuk menemani minum kopi dan teh tawar,” paparnya.

Tamzil mengatakan, Pilkada Kudus kali ini memang menarik. Ada lima pasangan yang maju. Dua di antaranya justru maju independen. Bahkan dalam detik-detik terakhir, akhirnya PKB memilihnya. ”Jadi mepet sekali. Sabtu malam dapat rekom, langsung ngurus semuanya,” katanya.

Untuk mendapatkan simpati teman partai, Tamzil mengaku susah-susah gampang. Proses melamar Hartopo, juga diakui sulit. Namun Tamzil tak putus asa merayu. Tim suksesnya juga membantu meluluhkan hati Hartopo. ”Melamar Pak Hartopo seperti melamar pacar. Diajak kencan dulu, lalu jalan-jalan, baru jadian,” kelakarnya.

Hartopo mengaku, terjun ke dunia politik bukan cita-citanya. Bahkan, pria yang saat ini menjadi anggota DPRD Kudus ini, tak punya keinginan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif sebelumnya. Namun banyak yang meminta maju. Waktu itu, Hartopo dipanggil Ketua DPC PDIP Musthofa. Tujuannya untuk dijadikan bendahara DPC. Dia juga diminta nyaleg karena dianggap potensial. Karena tak niat, Hartopo tak serius. Sekitar kurang dua bulan dari coblosan baru pasang gambar. ”Yang pasang malah teman-teman saya,” katanya.

Begitu juga saat pilkada ini. Dia mengaku tak berminat maju. Namun, dia dilirik banyak pihak. Mula-mula dibujuk Nusron Wahid untuk mendampingi adiknya, Mawahib. Akhwan juga melamar. Dia menolak. Alasannya tak minat.

Setelah itu, Sri Hartini juga menginginkannya menjadi wakil. Namun lagi-lagi ditolak. Bahkan Mas Umar juga meminta hal serupa. Kali ini, keinginanya muncul, bahkan sudah 80 persen setuju. Namun kandas, karena Mas Umar mengundurkan diri dari pilkada. Keinginan untuk maju padam. ”Mas Umar itu baik. Tapi dia malah mundur,” paparnya.

Namun, lamaran pun datang kembali. Kali ini Masan. Berbagai cara dilakukan agar dia mau dipinang. Bahkan, akunya, Masan rela kursi K1 diberikan ke Hartopo. Tapi, lagi-lagi dia tak mau. Tiba-tiba Tamzil muncul dan meminangnya. Dia awalnya menolak. Takut dianggap penghianat, sebab Hartopo dikenal sebagai kader PDIP militan.

Namun usai penolakan, tim sukses Tamzil terus mendatanginya. Setiap hari dioyak, ditelepon, dan di-SMS. Tujuannya meminta untuk mendampingi Tamzil. Hingga fotonya diminta disandingkan dengan Tamzil. Hingga dibuat baliho. Namun dia mengaku tak keluar uang sepeserpun. ”Tim suskes Pak Tamzil militan. Saya dikejar-kejar terus, akhirnya saya putuskan bergabung. Syaratnya Pak Tamzil harus prorakyat,” katanya.

Baehaqi manggut-manggut. Dia lantas mengapresiasi Tamzil dan Hartopo yang mampu mendapatkan rekomendasi dari PKB dengan dua partai koalisi, PPP dan Hanura. ”Pak Tamzil ini lolos di lubang jarum. Di detik-detik terakhir akhirnya dapat rekom. Menarik sekali,” ujarnya.

Ketua DPC PKB Kudus Ilwani mengatakan, dari pusat sebetulnya alurnya merah. Namun Tamzil meminang PKB. Pihaknya tak bisa memberi keputusan, Tamzil diminta menghadap DPP. ”Rekom akhirnya didapat Pak Tamzil. Padahal itu kurang seminggu sebelum pendaftaran,” katanya. Sedangkan Sekretaris DPC Hanura Sutriyono dan Ketua DPC PPP Ulwan Hakim mengerucut memilih Tamzil karena dianggap mampu membawa Kudus religius dan nasionalis.

Sekitar pukul 15.00, rombongan pamit undur diri. Tak lupa, karyawan Radar Kudus dan tim suskes Tamzil-Hartopo berfoto bersama. Usai dari kantor Jawa Pos Radar Kudus, rombongan sowan ke ndalem KH Ulil Albab Arwani (Gus Bab), pengasuh Ponpes Yanbu’ul Qur’an.

(ks/mal/lin/aji/JPR)