Latihan Jurnalistik Setelah Belajar Kitab Kuning – Radar Kudus

 M. KHOIRUL ANWAR, Nalumsari

KETERTARIKAN Syihabul Fikri dalam mendalami dunia tulis menulis menghasilkan prestasi gemilang. Di tengah kesibukannya sebagai santri dia juga belajar jurnalistik. Selain itu, terkadang disibukkan dengan tugas praktik sekolah di kejuruan teknik kendaraan ringan. Tapi ketekunannya belajar jurnalistik terus ia kembangkan.

Di ajang yang diikutinya beberapa waktu lalu, dia mampu mengungguli puluhan peserta perwakilan seluruh provinsi di Indonesia. Meskipun belum meraih juara pertama, dia berhasil membawa pulang satu-satunya prestasi yang dibawa kontingen Jepara dalam ajang yang diselenggarakan LP. Ma’arif pusat tersebut.

Terkait prestasinya ini, laki-laki kelahiran Jepara, 13 April 2001, tersebut mengaku menyukai dunia tulis menulis sejak kelas X SMK. Dia bergabung ekstrakurikuler jurnalistik di sekolahnya. Saat ini ia ditunjuk sebagai Ketua Majalah Balekambang Edisi XI. ”Dari kelompok itu, saya mengikuti pelatihan dan seminar jurnalistik. Salah satunya seminar Gerakan Santri Menulis,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Laki -laki yang beralamat di Desa Wedung, Kabupaten Demak itu, menuturkan pernah mengikuti lomba reportase tingkat eks-Karesidenan Pati. Tapi ia belum berkesempatan menjadi juara. Dari kegagalannya itu, justru semangatnya untuk belajar jurnalistik.

Setelah pulang sekolah dia menyelesaikan tugas kejuruan. Sore sampai malam harinya dia mengaji kitab kuning di pesantren. Sampai di kamar dia mengaku membaca buku-buku jurnalistik. Ia lakukan di sela-sela aktivitasnya sebagai santri dan pelajar. ”Jika tidak ada tugas kejuruan saya bersama teman-teman redaktur majalah belajar jurnalistik bersama. Ketika ada agenda sekolah dan pesantren bertugas meliput,” jelasnya.

Pelajar kelas XI Tehnik Kendaraan Ringan SMK Roudlotul Mubtadiin Balekambang tersebut menyatakan, dalam lomba yang diikutinya dia berupaya melakukan yang terbaik. ”Saya punya kesempatan jadi saya harus melakukan yang terbaik. Baik saat peliputan maupun penulisannya. Bersyukur bisa meraih juara di tingkat nasional,” tuturnya.

Laki-laki yang akrab disapa Fikri ini menceritakan, ketika lomba peliputan tersebut ia merencanakan dari sejak latihan untuk mewawancarai Presiden RI Joko Widodo. Karena ketatnya penjagaan pasukan pengaman presiden ia tidak berhasil mewawancarai presiden. Meskipun begitu, dia bangga bisa berkesempatan foto dengan presiden. Setelah selesai acara pembukaan, dia mengikuti jalannya presiden. Niatnya mau wawancara tapi tidak bisa. Presiden bersalaman dengan semua peserta. Karena khawatir tidak bisa bersalaman, dia berteriak bahwa presiden dapat salam dari Balekambang. “Setelah saya teriak seperti itu, Presiden Jokowi memanggil dan handphone saya diberikan salah satu keamanan. Akhirnya saya dan presiden bisa foto bersama,” kenangnya.

Setelah dari upacara pembukaan wirakarya ma’arif tersebut, ia kembali ke home stay. Dia langsung membut reportase dari pembukaan tersebut. Beritanya terdiri dari tiga paragraf. Paragraf pertama diisi tamu yang hadir dalam pembukaan. Paragraf kedua isi pidato Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Sirodj yang menyampaikan bahwa lagu Shubbanul Wathan karangan KH. Wahab Hasbullah, bukanlah hadis Nabi Muhammad. Namun sejatinya lagu tersebut berguna untuk mempersatukan umat Islam dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan paragraf terakhir menngutip sambutan Presiden RI Joko Widodo.

Dalam amanatnya beliau menyampaikan bahwa Indonesia ini adalah negara yang besar. Dengan menguatkan persaudaraan sesama umat Islam dan persaudaraan anak bangsa, negara ini akan menjadi kuat ekonominya. “Berita saya tulis tangan dan berupa ketikan. Hasilnya saya kumpulkan ke penyelenggara. Alhamdulillah meraih juara 2,” paparnya.

(ks/zen/top/JPR)