Tradisi mudik mendorong kenaikan harga minyak dan gas selama Lebaran 2018 lalu. Selama seminggu, kenaikan migas naik hingga 15 persen.

Ketua Hiswana Migas Jatim, Rachmad Muhammadiyah mengatakan, sesuai prediksi kenaikan migas mayoritas mencapai 10 hingga 15 persen di Jatim. “Dari tahun sebelumnya juga demikian, budaya mudik membuat penjualan BBM naik, namun tidak terllau signifikan karena proses angkut barang berhenti selama Lebaran,” kata Rachmad.

Dikatakan, kenaikan konsumsi gasoline tertinggi pada arus mudik terjadi pada 9 Juni 2018 atau H-6 menjadi 124.093 kiloliter. Jumlah ini naik 35 persen dan pada 13 Juni 2018 H-2 menjadi 121.337 kiloliter atau sekitar 32 persen.

Sementara pada arus balik, kenaikan konsumsi tertinggi pada 19 Juni 2018 atau H+4 sebesar 121.064 kiloliter atau kenaikan 32 persen, pada 23 Juni 2018 (H+8) sebesar 118.510 kiloliter 29 persen. Untuk konsumsi BBM jenis gasoil secara nasional diperkirakan naik rata-rata 8 persen menjadi 38.077 kiloliter per hari dari semula 35.286 kiloliter per hari.

Kenaikan tertinggi konsumsi gasoil  terjadi pada 9 Juni 2018 H-6 sebesar 55.122 kiloliter 56 persen penurunan konsumsi terjadi signifikan pada hari H menjadi 14.205 kiloliter. “Untuk solar tidak terjadi kenaikan secara signifikan karena solar sering dipakai oleh truk,” kata Rachmad. 

Rachmad mengklaim tidak ada kekurangan minyak gas di berbagai SPBU. Sebab, Hiswana bersama Pertamina sudah bekerjasama untuk menyediakan dan bahkan memasok secara rutin migas. “Pertamina sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk Lebaran lalu, jadi kami sudah bisa antisipasi dengan baik,” pungkasnya. (han/ris)

(sb/han/ris/JPR)