Lestarikan seni tradisional, gelar lomba kentrung – Radar Kudus

Lomba kentrung tersebut dibuka dengan penampilan kentrung dari Mbah Parmo dan Mbah Madi yang merupakan satu-satunya kelompok kentrung yang masih bertahan di Kota Ukir. Setelahnya, ada lebih dari 15 kelompok yang unjuk kebolehan.

Mereka tampil dengan kreasi yang lebih modern. Ada yang tampil dengan menyisipkan lawakan masa kini. Ada pula yang mengangkat mengenai cerita seni ukir di Jepara. Salah satunya sebagaimana yang ditampilkan Aan Zahroni, peserta kategori umum asal Desa Mantingan. ”Saya tampil berdua. Kami selingi dengan lawakan-lawakan,” katanya.

Salah satu panitia kegiatan Amin Ayahudi menyatakan, saat ini hanya ada satu kelompok kentrung yang masih eksis. Itupun pementasannya cukup terbatas. Karena itulah pihaknya coba mempopulerkan kembali seni kentrung di Jepara.

Amin menyampaikan, seni kentrung sendiri merupakan penyampaian sastra lisan dengan musik terbang dan kendang. ”Di dalamnya ada cerita-cerita yang disampaikan. Biasanya melalui parikan atau pantun,” urainya.

Dalam lomba ini, Amin menyatakan, peserta tidak dibatasi kreasinya. ”Mereka bebas berkreasi. Tidak harus terpaku pada kentrung Jepara sebagaimana ditampilkan Mbah Parmo dan Mbah Madi,” ujarnya.

Amin menambahkan, para peserta juga bebas menggali sejarah lokal hingga tampil dengan referensi dari kentrung derah lain. ”Kami tidak batasi, agar peserta bisa berkreasi dengan gaya mereka masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Jepara Sholih mengatakan, kentrung merupakan salah satu seni tradisional Jepara yang harus dilestarikan. ”Dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang, karena itu kita wajib melestarikan,” ajaknya.

Sholih melanjutkan, ini merupakan lomba kentrung yang digelar kali pertama. Sasarannya para generasi muda. ”Melalui generasi penerus bangsa ini, harapannya kentrung bisa kembali memasyarakat. Ini juga penting sebagai penguatan jati diri, agar tidak tergerus budaya asing,” ujarnya.

Sholih berharap, ke depan lomba kentrung bisa terus dilakukan untuk memunculkan kelompok-kelompok kentrung baru. ”Harapannya semakin banyak lomba untuk seni-seni tradisional lainnya,” harapnya. 

(ks/emy/lin/top/JPR)