Lukisan Tembok Masuk Sepuluh Besar Kampung Piala Dunia – Radar Madura

Mengunjungi Dusun Sumur Agung membuat pencinta bola pasti betah. Berbagai gambar bendera peserta Piala Dunia 2018 terpampang. Baik digambar di tembok maupun berupa bendera replika sejumlah negara. Penuh warna-warni dan penuh kebersamaan antarwarga satu sama lain.

Dari pusat Kota Sampang menuju kampung ini sedikitnya membutuhkan sekitar 30 menit. Desa pinggiran, namun penuh inspiratif pemuda. Di kampung ini, Piala Dunia memang sangat ditunggu. Mereka kompak nonton bareng (nobar) di setiap pertandingan. Meski berbeda dukungan, mereka tetap kompak menyaksikan Piala Dunia setiap babak.

”Di sini setiap Piala Dunia kompak. Kami nonton bareng mulai dari awal sampai final. Tapi kami tidak pernah cekcok meskipun berbeda dukungan,” terang Dedy Aziz Rianto, 35, warga setempat.

Setiap lukisan murni hasil karya pemuda setempat. Mereka kompak membuat gambar pernak-pernik Piala Dunia. Mulai dari bendera Negara peserta Piala Dunia dan pernak-pernik lainnya. Warga sangat menanti terselenggaranya Piala Dunia 2018 yang dibuka tepat pada malam Lebaran kemarin.

Kreativitas itu tidak hanya dimotori pemuda. Namun dari semua kalangan usia kompak. Mereka merelakan rumahnya dicat berwarna-warni. ”Selain pemuda di sini kompak, kami juga didukung kepala desa. Sehingga kami bisa menyalurkan kecintaan bola melalui lukisan di kampung ini,” ucap laki-laki yang akrab disapa Yayan tersebut.

Di Kampung Sumur Agung, pada saat liburan ada pemandangan menarik. Terutama sore hari saat anak-anak di kampung itu tidak ada jadwal sekolah. Mereka kompak berkumpul di halaman kampung bermain bola plastik. Menambah suasana kampung semakin menampakkan kecintaannya terhadap bola.

Anak-anak tidak sekadar bermain. Mereka tetap mengikuti aturan main sepak bola. Bahkan lapangan yang sangat sempit tetap didesain layaknya lapangan beneran. Lapangan dicat hijau dengan garis putih seperti lapangan sepak bola yang digunakan Piala Dunia.

Dari jauh, suara sorak gembira terdengar. Terlihat kampung yang berwarna-warni penuh dengan anak bermain bola. Sementara orang tua menyaksikan. Sebagian mereka sibuk berdiskusi tentang persiapan Piala Dunia di Rusia.

”Kami biasanya nobar di halaman kampung. Setiap orang keluar rumah kompak melihat layar yang kami sediakan. Dari dulu di kampung ini memang pencinta bola turun-temurun. Selama Piala Dunia berlangsung kampung ini ramai,” ungkapnya.

Berkat kreativitas mereka, pemuda setempat mendaftarkan pada lomba kampung Piala Dunia yang dilaksanakan oleh salah satu stasiun televisi nasional. Lokasi itu berhasil masuk sepuluh besar sebagai Kampung Piala Dunia se-Indonesia. Prestasi itu kedua kalinya setelah sebelumnya tidak jauh dari lokasi itu mendapatkan prestasi yang sama. ”Ini murni lukisan kami. Bahkan warga dari kampung lain berdatangan ke sini untuk nobar Piala Dunia,” katanya.

Kades Pangarengan Mochammad Aksan sangat mendukung kegiatan pemuda. Pihaknya selama ini mendukung penuh dalam kreativitas mereka. ”Ini adalah ide pemuda yang kami dukung. Kami support semua keperluan mereka sehingga tercipta Kampung Piala Dunia,” ucapnya.

Menurut dia, kegiatan positif wajib didukung pemerintah. Salah satunya untuk menghindari pergaulan negatif. ”Makanya, kami sangat mendukung agar pemuda jauh dari kegiatan negatif. Kegiatan semacam ini kan positif,” imbuhnya.

(mr/fat/luq/bas/JPR)