lukman jaya perajin kayu laut – Radar Kediri

Ditipu, bangkrut, hingga kehabisan modal pernah ia rasakan. Tapi itu bukan alasan bagi Lukman Jaya meninggalkan usahanya. Berbekal pengalaman ngeluyur di Bali, tiga dekade ia berbisnis aksesoris. Termasuk yang berbahan langka, kayu laut.

“Ilmunya ngawur,” ujar Lukman lantas terkekeh di atas kursi roda. Meski tubuhnya belum bisa sepenuhnya digerakkan akibat kecelakaan hebat sebulan lalu, semangat pria berambut gondrong ini masih terlihat.

Apalagi saat ditanya seputar bisnis aksesoris yang sudah ia geluti sejak muda. Ditemui di rumahnya, blok J-3 Bumi Permata, Tulungrejo, Pare, Minggu siang (24/12), Lukman tampak antusias.

Ia mengaku, ingin terus melanjutkan usahanya karena memang punya gairah di sana. “Waktu kecelakaan itu, saya juga mau pameran di Surabaya. Pas berangkat, braakk… nabrak truk parkir. Bentur di sini,” katanya sambil menunjukkan luka di dahinya.

Kapok karena kecelakaan, tentu tak tertera dalam kamus hidup Lukman. Apalagi, pria yang berusia 50 tahun ini bukan perajin aksesoris karbitan. Sudah sejak 1987 ia menggeluti usaha tersebut, hingga dalam beberapa tahun terakhir dipercaya Kabupaten Kediri mengikuti pameran ke sejumlah daerah. Sudah banyak hal yang ia lalui. Baik sukanya, maupun duka dalam usaha.

Awalnya, usai lulus dari SMA Muhammadiyah Pare, Lukman muda belum punya gambaran harus melanjutkan hidup ke mana. Saat itu, dia justru kerap terlibat masalah. “Namanya anak muda,” kenangnya.

Tapi masa-masa itu ingin ia cepat lalui. Tak sampai setahun menganggur, Lukman pun memutuskan berangkat ke Denpasar, Bali, menemui saudaranya. Ia berencana melamar pekerjaan di kapal. Ikut orang. “Di (pelabuhan, Red) Benoa sana. Itu bayangan saya. Kerja di kapal, enak,” sambungnya.

Namun meski sudah melamar, sebulan dua bulan, tetap tak ada panggilan. Akhirnya, Lukman justru lebih banyak nongkrong, bergaul dengan orang setempat. Hasilnya, ia pun diajak untuk ikut berjualan aksesoris.

Di Bali waktu itu, Lukman mengatakan, belum terlalu banyak penjual aksesoris. Karenanya, peluang membuka usaha aksesoris masih terbuka lebar.

Dari mulanya menjadi penjual terusan, Lukman akhirnya belajar cara membuatnya. “Dari lihat-lihat, lalu coba sendiri buat,” paparnya.

Berawal dari sanalah, ternyata Lukman justru kecanduan jadi perajin aksesoris. Ia pun mulai bereksperimen. Baik dari bahan, maupun bentuk. Bahkan, Lukman pernah coba-coba membuat aksesoris berupa anting dan kalung dari bahan yang biasanya dibuat kursi. Ada yang bermotif sisik ular, buaya, kulit harimau, dan macam-macam.

Ternyata eksperimennya sukses. Banyak turis asing atau bule yang suka dengan kreasinya. ”Padahal cuma saya potong persegi, segitiga, orang-orang suka. Bule terutama. Mereka banyak bawa untuk jadi oleh-oleh atau dijual lagi di negaranya. Waktu itu, per biji cuma Rp 500,” ungkapnya.

Karena terus mendatangkan hasil, Lukman pun makin serius. Bahkan, ketika akhirnya kembali ke Pare, di awal tahun 2000-an, Lukman masih menjalankan bisnisnya ini. Soal bahan, pilihannya pun makin beragam. Bahkan, selain mengembangkan aksesoris dari bahan-bahan murah, seperti batok kepala dan kayu biasa. Ia juga mulai merambah kerajian aksesoris berbahan mahal dan langka, seperti kayu laut dan koral merah. Segmentasi pasar, tentu jadi kendala. Namun dengan ikut sejumlah pameran, produknya mulai dikenal luas.

Untuk produk dari kayu laut, harganya memang bisa menembus jutaan rupiah. Makanya, pembelinya pun biasanya dari kalangan atas. “Pernah ada kalung seperti ini dibeli Rp 1 juta, nggak nawar. Ya memang cukup mahal. Bisa ada yang sampai Rp 3 juta juga,” ujarnya.

Namun namanya berbisnis, ada juga saat di mana Lukman merugi. Seperti saat ia tergiur menjalankan bisnis ukir kayu. Bukan aksesoris kecil-kecil lagi. Kebetulan dari kenalannya, ada pembeli dari Malaysia yang tertarik memesan dalam jumlah besar. “Waktu itu pesan sekitar 3.600 barang. Kayak pintu ukiran begitu. Saya ambil saja,” ujarnya.

Karena tak punya modal, rumahnya yang berada di perumahan Bumi Permata Pare, yang ia cicil dari tabungannya ia jual. Harapannya tentu untung besar. Apalagi nominal harga yang disepakati dengan pengusaha dari Negeri Jiran itu cukup tinggi.

Tapi bukannya untung, Lukman malah buntung. Di saat pengiriman awal, transfer uang memang lancar. Namun mendekati akhir, ternyata sang pembeli menghentikan pembelian secara sepihak. Ada sebanyak 600 barang yang tak jadi dikirim. Lukman pun bangkrut. Rugi jutaan rupiah. “Kena tipu,” ungkap pria yang rambutnya sudah memutih ini.

Namun dari berbagai pengalaman itu, ia jadi tahu bahwa berbisnis memang naik turun. Terkadang, pasar tiba-tiba tercipta. Tapi bisa jadi, dalam waktu singkat pula menghilang. Begitu juga soal peruntungan.

Seperti saat ia ‘dipaksa’ mengikuti lomba handycraft yang digelar Pemkab Kediri, 2008 lalu. Ia sebenarnya tak berminat ikut. Apalagi melihat cukup banyak perajin aksesoris di Kediri yang punya kreasi dan barang yang cukup bagus. Tapi ia diminta mewakili kecamatan setempat dan tak bisa menolak.

Saat lomba, ia sempat pesimistis. Minder. Tapi anehnya, barangnya justru diambil oleh juri dan masuk penilaian tahap selanjutnya. Meski saat itu, Lukman masih tak yakin kreasinya bisa juara. “Pengumuman juara harapan lewat, ketiga, kedua. Wah, waktu itu malah dapat juara,” ujarnya.

Dari sanalah, namanya mulai dikenal di Pemkab Kediri. Peruntungannya kembali. Ia pun mulai sering diajak pameran di berbagai kota. “Yang paling laris waktu pameran ya yang dari kayu laut begini. Terutama gelang ya. Biasanya diukir dengan bentuk naga,” ujarnya. “Kalau tidak habis dibeli pengunjung, penjual lain biasanya juga mau beli,” sambung Lukman.

Soal aksesoris berbahan kayu laut sendiri, Lukman mengaku membuatnya karena memang bagus. Berbahan kayu dari laut yang ia ‘impor’ dari Maluku, warna alami kayu biasanya keluar usai finishing. Ada yang merah, hijau, bahkan emas. Apalagi, sebagian orang juga menganggap bahan ini memiliki tuah. Makanya tak heran, kerajinan berbahan ini sangat diburu.

Meski begitu, Lukman mengaku, tak punya akun media sosial untuk memasarkan produknya. Selain bergantung dari pameran, ia mengaku produknya banyak dibeli dari promosi, mulut ke mulut. “Saya juga tidak pasang merek. Dikenalnya memang gelondongan begini. Nggak diplastiki, nggak ada labelnya. Ya sudah begini saja,” ujarnya sembari tersenyum.

Kini, Lukman memang tak memproduksi barangnya secara masal. Apalagi semenjak tak lagi berkirim barang ke Bali karena sulitnya penagihan, dia memang mengurangi produksinya. Dulu, ia bisa menggerakkan 20-an ibu-ibu rumah tangga di kawasan Badas untuk ikut merangkai kalung atau gelang. Saat ini, hanya tinggal sepertiganya. Itu pun jika ada permintaan tertentu.

Namun selain barang dengan harga mahal, Lukman kini juga menseriusi bisnis aksesoris murah meriah. Seperti gantungan kunci dengan karakter Danbo, atau berbagai bentuk menarik lainnya. Barang-barang inilah yang banyak di titipkan di mal, toko-toko kerajian, hingga berbagai outlet di Kediri maupun kota-kota lain.

“Saat ini juga sudah selesai produksi untuk oleh-oleh gantungan kunci di Kampung Indian, Kampung Anggrek, dan Kampung Nanas. Bentuknya ya disesuaikan. Ada yang rumah Indian, buah nanas, juga bunga anggrek,” tandasnya.

(rk/die/die/JPR)

Source link