Retno Yuhana Lestari, warga yang disekitar lokasi kejadian sempat melihat korban tergeletak sesaat setelah kecelakaan mengaku prihatin. Maklum, dirinya mengenal salah satu korban tewas. 

‘’Ternyata Ari, mantan anak didik saya. Saya segera hubungi keluarganya,’’ kata guru SDN 1 Trisono Babadan itu.

Beberapa warga, kata Retno, mengetahui Ari dan temannya itu sempat ada masalah sebelum kecelakaan terjadi. Diduga Ari tersulut emosi dan mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi. 

‘’Tidak ada yang berani memindah korban, hanya dicarikan kain penutup sambil menunggu polisi datang,’’ terangnya.

Retno yang kenal orang tua Ari mengungkapkan, tanda-tanda aneh dari korban telah dirasakan ibunya. Malam harinya, lanjut Retno, Ari yang biasa tidur di kamarnya sendiri memilih beristirahat bersama ibunya. 

Selain itu, tidak biasanya Ari berangkat praktik kerja lapangan (PKL) sepagi itu. Kecelakaan yang terjadi Selasa (7/11) lalu itu jarum jam baru menunjuk sekitar 06.30 Wib. 

‘’Kata ibunya, Ari biasa berangkat PKL di salah satu bengkel las di Jenangan sekitar pukul 08.00,’’ ujar Retno. 

Jumikun, warga lainnya menambahkan, kondisi Simin, tidak kalah mengenaskan. Simin tengkurap bersimbah darah. Nyawanya tidak tertolong kendati helm masih terpasang di kepalanya. 

‘’Saya nyangkul halaman depan rumah, suara tabrakan keras sekali,’’ ujar Jamikun.

Diketahui, Simin kala itu baru pulang mengantarkan anaknya berangkat sekolah ke SMK Sore Ponorogo. Sebelum terlibat kecelakaan maut tersebut, duda dua anak itu sempat membeli nasi pecel sekitar 300 meter dari TKP. 

(mn/mg8/sib/sib/JPR)

Source link