Masih Kondusif, Tak Terpancing Debat – Radar Jember

Kabag Ops Polres Lumajang Kompol Eko Hari S menjelaskan, hingga sore kemarin kondisi di Lumajang masih dinamis. Tetapi, masih dalam kondisi yang normal. “Data intelijen masih kondusif. Semua berindikator warna hijau. Aman, tak terdampak debat di TV,” katanya. Dia menjelaskan, ini adalah bentuk kedewasaan masyarakat Lumajang yang tidak mudah terpancing dan terprovokasi suasana debat. Dia pun meminta agar kondisi ini tetap dipertahankan. 

Ketika simpul-simpul kerawanan mulai muncul, pihaknya akan segera berkoordinasi untuk mengambil langkah. Debat akhir pekan kemarin berlangsung di studio JTV. Bukan di Lumajang, melainkan di Gedung Graha Pena Surabaya. Seperti debat sebelumnya, ada empat segmen. Hanya moderatornya yang berbeda. Meski tak seluwes Rini pada debat pertama, namun Agus Machfud Fauzi yang juga mantan anggota KPU begitu lancar memimpin debat.

Segmen pertama pada paparan visi-misi. Paslon 1, Thoriqul Haq-Indah Amperawati yang pertama melakukan paparan. Paslon ini menuliskan dan memajang program dalam selembar kertas yang dibacakan poin-poinnya. Paslon 2, yakni As’at – Thoriq Alkatiri memaparkan dengan ritme cepat yang diwakili As’at. Paslon 3, Rofik membuka paparan begitu singkat dan lugas, sekitar 30 detik dilanjutkan paparan wakilnya, Nurul Huda sampai habis. 

Tema-tema debat lain hampir sama dengan debat pertama dan kedua. Namun, di debat ketiga ini muncul izin rumah sakit yang disampaikan cabup nomor 1, Thoriqul Haq. “Izin RS NU kenapa kok tidak keluar, tetapi minimarket dimudahkan,” ungkapnya. Hal itu dijawab tegas oleh cabup nomor 2, As’at, bahwa soal RS NU Lumajang, izin tidak keluar karena memang pemerintah bukan sebuah paguyuban.

“Pemerintah bukan paguyuban, jika tidak memenuhi syarat, ya tidak bisa keluar izinnya,” jelas As’at. Sementara Cawabup nomor 3, Nurul, memang tidak spesifik menanggapi pada RS NU, tetapi pada hal lain. Menurut Nurul, meski mendapat penghargaan, IPM Lumajang rendah, yakni urutan 35, sehingga menunjukkan belum berhasil. 

“Lumajang low income per kapita,” terang Nurul. As’at menegaskan bahwa selama ini sudah membuktikan dengan meraih sebanyak 77 penghargaan. Dirinya mengaku ada kekurangan, makanya mencalonkan lagi untuk menyempurnakan.

“Saya sudah bekerja dan sudah terbukti. Silakan dilihat apakah penilaian itu bohong,” pungkasnya.

(jr/fid/ram/das/JPR)

Source link