Sartini, saat menuangkan jamu ke gelas.
(RAMONA TIARA VALENTIN – JP RADAR KEDIRI)

Namanya lingkungan Kauman. Letaknya di Kelurahan Kampungdalem. Lingkungan ini dikenal dengan banyaknya warga yang berjualan jamu keliling.

RAMONA TIARA VALENTIN

Lokasinya di tengah kota. Rumah-rumah warganya tersebar di beberapa gang yang amat padat. Berada di tepi Sungai Brantas.

Di lingkungan ini terdapat lima rukun tetangga (RT). Jumlahnya mencapai 270 kepala keluarga. Tergabung dalam satu rukun warga (RW). Namanya RW 02. Yang membuat khas, mayoritas pekerjaan penghuninya adalah penjual jamu keliling.

“Uakeh…Mbak lek bakul jamu ider nek kene (banyak sekali Mbak kalau pedagang jamu keliling di sini),” ujar Titik Sihwiyati, 57.

Titik adalah istri ketua RT 04 RW 02. Dia memang bukan penjual jamu. Tapi sebagai istri ketua RT dia sangat tahu siapa saja warganya yang berjualan jamu.

Dari keterangan Titik pula diketahui bahwa pedagang jamu di Kauman menjadi pekerjaan dari generasi ke generasi. Sekarang saja ada pedagang generasi baru dan generasi lama. Sebagian sudah ‘pensiun’ karena usia lanjut.

KAMPUNG JAMU: Para penjual jamu asal Kampung Kauman saat hendak berangkat berkeliling menjajakan dagangannya.
(RAMONA TIARA VALENTIN – JP RADAR KEDIRI)

Menurut Titik, cerita tentang Kauman yang dihuni para penjual jamu berawal dari 1959. Ketika Mbah Suwandi datang ke tempat itu. Lelaki yang kini sudah meninggal dunia itu merupakan pendatang dari Solo. Mencoba peruntungan di Kota Kediri dengan berdagang jamu keliling.

“Mbah Suwandi ke Kediri bersama istrinya, yang kebetulan ya sama-sama dagang jamu keliling,” cerita Titik. Titik tahu cerita itu karena istri dari Mbah Suwandi masih hidup hingga saat ini. Tapi, sudah pensiun dari menjual jamu.

Yang membedakan jamu dari warga Kauman ini dengan jamu yang lain terdapat pada bahan pembuatannya. “Empon-empon asli, alami, segar,enek jeruke, gulanya yo alami (Rempah-rempah asli,alami,segar,ada jeruknya, gulanya juga alami),” ungkap Rusiah,64, mantan pedagang jamu.

Dulu, mereka yang berdagang jamu kebanyakan turun-temurun. Dari orang tua ke anaknya, demikian seterusnya. Namun, kini mulai muncul kecenderungan para penjual jamu ini tak ingin pekerjaannya diteruskan sang anak.

Dari sisi usia, rata-rata usia pedagang jamu keliling ini adalah usia produktif. Mereka menekuninya sejak masih bujangan. “Mulai soko perawan  yo panggah dodolan jamu,” terang wanita bercucu 3 ini.

Ada beberapa jenis pedagang jamu di kampung ini. Ada yang menjajakan dengan menggendongnya, ada yang menggunakan gerobak dorong, dan ada yang menggunakan sepeda pancal. Pasarnya mulai dari kawasan alun-alun, Jalan Dhoho, pasar, dan wilayah Kediri lainnya.

Saat ini, di tiap RT rata-rata ada 20-an penjual jamu. Artinya, dalam satu lingkungan penjual jamu mencapai 100-an orang lebih. Itu berarti hampir separo dari jumlah KK yang ada.

Yang menarik, para penjual jamu ini punya pasangan hidup yang hampir seragam pekerjaannya. Bila wanitanya jualan jamu, yang laki-laki pada umumnya adalah penjual es puter dan rujak buah.

Walaupun terlihat sepele hasil dari jualan jamu itu relatif lumayan. Menurut Hanifa, ketua karang taruna setempat, para keluarga pedagang jamu-penjual es puter itu banyak yang bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. “Beli rumah, kendaraan, dan lainnya,” terangnya.

Soal hasil yang lumayan itu diakui Suparmi, 76. Mantan penjual jamu gendong ini mengaku bisa hidup dari jualan jamu. “Batine saitik tapi cukup nggo urip (labanya sedikit tapi bisa untuk hidup),” akunya.

Selain itu, keberadaan pedagang jamu memberikan lapangan pekerjaan lain bagi warga sekitar yang masih belum bekerja. “Ono sing bagian iris-iris, nyelep, produksi sampe dodolan (Ada yang bagian kupas-kupas, selep, produksi sampai penjualan),” terang Rusiah.

(rk/die/die/JPR)

Source link