Menelisik Harta Karun Sungai Brantas dari Mata Sejarawan – Radar Kediri

Sepertinya, wajar bila orang seperti Romli Wibowo menemukan banyak ‘harta’ dari Sungai Brantas. Yaitu ketika warga Prambon, Nganjuk, dan rekan-rekannya, rela slulup. Mencari kepingan emas hingga uang kuno di dasar sungai. Mencari itu di sepanjang Sungai yang membelah wilayah Kediri ini. Mulai dari Minggiran hingga ke Mojo.

Sebab, ditilik dari sejarah, Sungai Brantas memang menyimpan ‘harta karun’ di setiap masa. Apalagi saat sungai tersebut menjadi jalur perdagangan utama. Dengan kapal-kapal besar yang menyusurinya.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Novi Bahrul Munib, sejarawan Kediri. Menurutnya, Sungai Brantas merupakan sungai besar yang sejak zaman dahulu disebut sebagai bengawan.

Bengawan itu bermakna jalan. Pada masa kerajaan Kediri maupun Majapahit, hingga masa akhir Hindia Belanda, Sungai Brantas menjadi jalan tol. Yang ramai dengan lalu-lalang perahu. Dari hulu ke hilir. Atau sebaliknya.

“Perahu-perahui itu membawa hasil bumi dan komoditi yang diperlukan masyarakat,” terangnya.

Dalam perjalanan perahu-perahu itu tak jarang mengalami kecelakaan. Hingga banyak yang karam beserta bawaannya. Yang diyakini oleh pria yang juga Penyuluh Budaya Dirjen Kebudayaan ini bisa ditemukan sampai saat ini. Seperti yang diperoleh Romli dkk saat menambang ‘emas’ di Sungai Brantas.

“Bisa jadi memang barang-barang itu sejak zaman dulu terkubur di dasar Sungai brantas. Karena memang Brantas merupakan jalur penting,” ungkap pria asal Desa Pagu, Kecamatan Wates ini.

Novi menjelaskan bahwa Bengawan Brantas merupakan urat nadi perekonomian di Jawa Timur. Zaman dahulu di sepanjang aliran bengawan ini banyak didirikan pelabuhan-pelabuhan. Berada di pinggir sungai yang biasa disebut naditirapradesa. Sebagai tempat menyandarkan perahu.

Sejak masa kerajaan pelabuhan-pelabuhan di Sungai Brantas ini telah dirawat dan dikelola negara. “Sehingga terdapat aturan-aturan hukum yang berlaku serta petugas pemungut pajaknya juga ada,” ujar ketua komunitas Pelestari Sejarah – Budaya Kadhiri atau biasa dikenal Komunitas Pasak Kediri.

Bukan tanpa dasar Novi menerangkan hal itu. Karena terkait pelabuhan Sungai Brantas ini menurutnya juga disebutkan dalam Prasasti Canggu peninggalan Masa Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Prasasti tersebut menerangkan tentang anugerah raja kepada seluruh naditirapradesa di sepanjang Bengawan Wulayu atau biasa disebut Bengawan Solo dan Bengawan Sigarada atau Sungai Brantas ini.

“Kemungkinan salah satu pelabuhan yang memang terakhir diketahui adalah di wilayah Jong Biru itu,” ujar sejarawan lulusan Universitas Negeri Malang itu.

Tidak hanya itu, banyak kapal karam yang membuat isinya juga ikut tenggelam. Karena Sungai Brantas juga menjadi lokasi serangan pasukan Mongol dengan Majapahit saat menggempur Kota Daha yang saat itu dipimpin oleh Jayakatwang. Peristiwa ini terjadi di 1215 saka atau 1293 masehi. Saat pertempuran itu banyak kapal-kapal kerajaan Glang-glang di dermaga Daha Hancur. Juga beberapa perahu pasukan Mongol-Majapahit juga hancur di sungai ini.

“Ada juga kejadian saat VOC bersama dengan Mataram menyerbu istana Trunojoyo di Kediri juga karam di Sungai Brantas ini,” ujar lelaki lulusan jurusan sejarah ini.

Kejadian di masa lampau itu kini jadi berkah bagi Romli dan kawan-kawannya. Saat slulup mencari ‘harta karun’ itu mereka tak hanya mendapatkan kepingan emas dan koin kuno. Tak jarang pula merkea mendapatkan keris kuno juga.

Novi menambahkan, terkait ‘hata karun’ di Sungai Brantas ini dari masa ke masa memang terlihat. Mulai dari cerita saudagar yang hartanya terjatuh, adanya larung sesaji, hingga kecelakaan perahu, menjadi alasan sungai ini penuh barang-barang tersebut. “Kalau yang ini merupakan hal-hal sepele dalam sejarah,” ujarnya.

Dia tidak memungkiri hingga saat ini Sungai Brantas masih menyimpan berbagai harta. Dampak dari besarnya pelabuhan-pelabuhan di Kediri pada zaman dulu. Berbagai temuan warga seperti Romli dan kawan-kawannya itu pun membuktikan bahwa sungai Brantas pada masanya pernah menjadi urat nadi perekonomian. Terlebih di wilayah Jawa bagian timur. “Berbagai kejadian itulah yang menjadikan Brantas menyimpan berbagai rahasia. Termasuk temuan warga itu,” tegas Novi.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link